Kita sering mendengar premis ‘Mengejar Kebahagiaan’ (Pursuit of Happiness). Bahkan sebagian dari kita mungkin tanpa sadar mengadopsi dan meyakininya hingga masuk ke alam bawah sadar (belief). Dari keyakinan ini, banyak orang dengan alasan mencari kebahagiaan, akhirnya melakukan hal-hal yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Sebagai manusia yang mampu memimpin kehendaknya, keputusan bertindak yang dampaknya tidak ekologis seperti ini tentu ingin kita hindari.
Maka, ada baiknya kita
pertanyakan kembali. Apakah benar hidup ini mencari kebahagiaan? Kebahagiaan
apa yang benar-benar bisa memuaskan kita? Apa definisi kebahagiaan sebenarnya? Silakan
dibaca tulisanku yang menyadur dari postingan penggagas Enlightening Empowering, Bu Okina Fitriani.
Menurut KBBI, bahagia adalah: “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas
dari segala yang menyusahkan)”
Pertanyaannya, mungkinkah kita terbebas dari segala sesuatu yang
menyusahkan? Mungkin, tapi bukan saat kita hidup di dunia, melainkan nanti di surga.
Ini bukan opiniku atau siapapun, melainkan Allah SWT langsung di QS.Al
Baqarah:2 yang menyampaikan bahwa manusia di dunia akan diuji dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, dan kekurangan.
Berarti jika kita tetap menginginkan keadaan atau perasaan senang dan
tenteram di dunia ini bersifat kekal, tentu tidaklah mungkin. Yang mungkin adalah kita mengupayakan keadaan
atau perasaan senang dan tenteram namun harus disertai kesadaran bahwa keadaan
atau perasaan ini bisa pergi dan digantikan keadaan dan emosi-emosi lainnya
(please read my previous article).
Terinspirasi dari buku The Art of
Thinking Clearly, perlu dibedakan sekedar perasaan bahagia (happiness) dan perasaan bahagia yang
disebabkan kepuasan hati (contentment).
Mungkin pasangan, anak, dan limpahan harta bisa menghadirkan sekedar happiness bagi setiap orang, namun
biasanya tidak bertahan lama.
Persepsi masing-masing orang tentang apa yang bisa membuat mereka
bahagia dan berpuas hati bisa berbeda, tergantung value dan tujuan
masing-masing. But at the end of the day,
kita tentu ingin merasa puas dengan apa yang kita miliki dan rasakan hari ini.
Itulah yang dinamakan contentment. It's longer lasting than happiness, which consists of gratitude and satisfaction.
Kita mungkin sering merasa telah puas mencapai sesuatu. Tapi masalahnya, yang puas ini inner
self (pikiran dan perasaan kita) atau outer
self (pekerjaan, harta, pasangan, anak, image
kita di mata orang lain, dll) kita? It’s
dangerous jika kita membebankan fulfillment
or happiness ke outer self.
Akhirnya kita tidak akan pernah merasa content
karena goals nya berubah-ubah
terpengaruh oleh apapun di luar diri kita. Poin pentingnya adalah kita akan
merasakan kebahagiaan dan kepuasan hati saat kita yakin telah memberikan usaha
maksimal untuk mencapai misi hidup kita. Sulit mendapatkan contentment jika kita belum tahu apa yang menjadi misi hidup kita
di dunia dan bagaimana cara menjalankannya.
Di sisi lain ada konsep jiwa yang tenang (tuma’ninah) yang seharusnya
menjadi tujuan hidup setiap Muslim. Tuma’ninah artinya adalah ketentraman dan
ketenangan hati, yang ditandai dengan hilangnya kegundahan, kekhawatiran dan
guncangan dari dalam diri. Sepintas mirip dengan contentment, namun lebih spesifik lagi karena Allah menekankan dalam QS. Ar Ra’d:28 "Yaitu orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tentram."
Ada benang merah yang bisa ditarik dari konsep contentment ini dengan tuma’ninah, yaitu melepaskan diri kita dari
outer self yang melekat, karena kelak kita akan mati dan dimintai
pertanggungjawaban di hari akhir juga tanpa membawa outer self tersebut. Sekarang aku juga lagi berusaha
menghadirkan contentment di hidupku. Menutup mata di akhir hari dengan terlebih dahulu
memaafkan diri sendiri dan orang lain yang pernah menghadirkan luka di diri
ini, lalu mensyukuri segala yang telah dikaruniakan oleh-Nya dengan konsisten
menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Untuk apa? Agar bisa
terus terhubung dengan Sang Pemilik Jiwa, karena hanya dengan rahmat-Nya lah tuma’ninah
bisa kita rasakan.
Pursuit of Happiness ada baiknya digantikan dengan Pursuit of Contentment or Tuma'ninah (for Moslem). Maybe because our happiness is already inside of us. But the contentment, it's more challenging to achieve, yet so impactful for our life in the world and hereafter.
No comments:
Post a Comment