Assalamu’alaikum, folks!
Sudah lama aku menyadari bahwa pikiran, perasaan, dan
tindakan orang lain berada di luar kendali kita. Satu-satunya hal yang bisa
kita kontrol adalah pikiran, perasaan, dan tindakan kita sendiri. Begitu
simpelnya teori ini sebenarnya, tapi ternyata nggak semudah itu juga diterapkan
di kehidupanku. Beranjak dewasa, aku sebenarnya sudah bisa memfilter apapun
yang kulihat, kudengar, dan kurasa sehingga otakku mampu berpikir jernih dalam
memikirkan solusi setiap masalah. Perasaan muncul silih berganti dan kadang
kurespon dengan perilaku yang kurang memberdayakan.
Sejak aku kenal Bu Okina Fitriani (seorang psikolog dan
konsultan) dari Instagram, aku mulai berkenalan dengan emosiku sendiri. Dalam
suatu interview bertopik "Mengelola Emosi" yang terdiri dari part 1 dan part 2, Bu Okina menjelaskan tentang hikmah manusia dianugerahi
berbagai emosi oleh Allah SWT.
Manusia bisa merasakan bahagia, sedih, takut, kecewa, khawatir,
marah, bersemangat, bersalah dll. Sayangnya, banyak manusia yang tidak terbiasa mengakui emosi yang terlihat negatif seperti sedih, takut, marah, atau bersalah.
Hingga akhirnya tidak bisa mengontrol perilaku yang keluar sebagai respon dari emosi
yang terpendam tersebut. Makin lama dipendam, makin sakitlah psikisnya dan akhirnya mampu menyakiti orang lain dalam bentuk ego yang lapar. Itulah tanda jika seseorang terjebak dalam emosi dan
dikendalikan oleh emosinya sendiri.
Saat bersedih, memang rasanya tidak enak. Terlebih jika kita selami perasaan sedih itu, pasti air mata akan mengalir. Just let it go. Mungkin terasa tidak nyaman, but believe me, setelahnya akan terasa lebih ringan saat kita terima rasa sedih itu lalu biarkan ia pergi tertutup emosi baru lagi. Seperti yang dikatakan Bu Okina bahwa emosi sedih diciptakan Allah bukan tanpa manfaat. Kesedihan melahirkan empati. Maka penting bagi kita menyelesaikan emosi sedih tersebut sampai tuntas agar yang tersisa adalah kekuatan untuk melangkah dan menemukan solusi.
Apa yang terjadi kalau si sedih kita tolak keberadaannya? Ia akan terus ada disitu, enggan pergi dan sewaktu-waktu mudah bangkit jika dipicu trigger nya. Tak terasa kita jadi memelihara emosi yang tidak memberdayakan tadi bertahun-tahun dan lambat laun menjadi bom waktu yang membuat respon kita justru merugikan kita sendiri. Mungkin inilah yang dimaksud Powerless seperti yang dijelaskan oleh seorang guru NLP, Pak Prasetya M Brata.
Saat kita telah menyelesaikan emosi kita, artinya kita bisa
menerima diri kita seutuhnya, lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh diri kita,
dan bisa menentukan langkah apa yang bisa membuat kita menjadi lebih baik. Bayangkan
jika diri kita tidak mendapat apa yang sebenarnya ia butuhkan simply hanya
karena kita menyangkal emosi yang sedang kita rasakan.
Mengingat sepenting itu emosi mampu memberdayakan atau melemahkan kita, pesanku hanya satu. Kalau kamu ingin lebih berdaya dan tidak terjebak di kesalahan yang sama berulang kali, please coba saran berikut ini. Akui, lalu terima setiap emosi yang muncul, rasakan dan lepaskan sampai ia benar-benar pergi.
No comments:
Post a Comment