Wednesday, May 7, 2014

Terbius Tulus

Pertama kali dengar nama Tulus...Hah band model apa lagi nih? Entah kenapa yang terbayang di pikiran waktu itu adalah band - band beraliran Melayu semacam Kangen dan Merpati. -___-

Gara-gara dugaan tadi sempat nggak tertarik untuk cari tahu tentang solois pria yang bergenre pop-jazz ini. Eh, suatu saat ada seseorang yang menunjukkan kepada diriku sebuah video musik yang manis sekali berjudul "Teman Hidup" di yutub. Ternyata itu yang namanya Tulus, suaranya bagus. Hmmm...dugaan saya salah saudara saudara.

Cukup sampai di lagu itu yang kebetulan aku nggak seberapa suka, bahkan beberapa saat aku sempat lupa lagi sama Tulus. Akhirnya suatu saat lagi, teman seperjuangan di kosan, Ayu menulariku virus lagu-lagu Tulus lain yang dia tonton di yutub juga. Sekejap aja langsung ketagihan muter "Sewindu", "Jatuh Cinta", "Diorama", "Mengagumi dari Jauh", dan "Tuan Nona Kesepian". Ah Ayu sih nggak di Jogja, HOT banget tadi Tulus di Purnabudaya padahal haha.

Berbeda dengan solois pria lainnnya yang sering tidak bisa lepas dari stigma penyanyi lagu-lagu dengan aransemen dan lirik menyedihkan tipikal pengiring patah hati, Tulus punya nilai lebih selain suara yang menjual.  Musik catchy ditambah dengan lirik sederhana di setiap lagu adalah bekal utama Tulus menapaki jalan bermusiknya yang tampaknya bakal mulus.

Album barunya Gajah juga sayang jika dilewatkan. "Baru" adalah penggoda yang tepat menuju track list berikutnya. Lagu ini sukses membuat kita menganggukkan kepala dan menjentikkan jari sejak intro. Di konser yang barusan aku tonton, si Tulus bilang paling suka "Jangan Cintai Aku Apa Adanya" di antara lagu-lagu di album Gajah. Klise sih temanya, tapi romantisnya pas dan tanpa terdengar cheesy sama sekali.

Kalau favoritku jelas lagu andalannya, "Gajah" yang mempunyai amunisi lebih dari cukup untuk membuat leleh. Ya musiknya, ya liriknya. Tulus sebagai penulis lirik menurutku cukup jenius dalam menggunakan pilihan kalimat - kalimat metafora tapi tersampaikan maksudnya dengan lugas.

“Kita adalah sepasang sepatu. Selalu bersama tak bisa bersatu.”

Perumpamaan yang sangat manis untuk kisah cinta yang begitu tragis.

"Harusnya sisa masaku buat indah menukar sejarah tapi kita dalam diorama"

Lalu, kata Tulus lagi...

"Angkat penamu tulis, bila gemar menulis. Buktikan sekarang."

 Siap!

Sunday, May 4, 2014

An Excuse of a Girlfriend Who Always Make Her Boyfriend Waiting Too Long

don't you have any idea how precious time for me when I could see you,
even just the last day we've met,
and we'll only go out for breakfast.

it may sound ridiculous to you, but yeah I admit that I spend plenty of time just to look at the mirror.
I don't count it, but it must be thousand times.
just to fit my appearance,
is there any flaw on my face?
is there any mismatch colors in my whole outfit?
do my lips look so pale? or instead, so over colored?
is my veil neat enough? because if it is not I will re-iron it hundred times.
may be I just always want to look nice in front of you,
although it usually ends with a so-so appearance, hehe.

let me tell you, that it is not so me actually.
ask anyone who knows me,
they'll tell you, I used to wear uncluttered and sometimes improper outfit when it comes to go out with them,
I'll be ready for a second, after grabbing the nearest outwear I could reach, then wearing a black veil whatever my clothes color.
that's the lazy me.

will you believe if I say you're that special?

in this post, I want to sincerely apologize and also deeply thank to you who always patiently wait for and bring joy to me.

:)
Jogja, May 4th 2014
listening The Velvet Underground-I'll be Your Mirror

Kitchn!

Nggak kerasa hampir tiga minggu aja nggak bisa lepas dari kitchen decor demi mencari sesuap nasi. Satu komentar, ternyata cari uang susah ya hahaha (iya, aku baru tau). Asli sekarang baru nyadar ternyata benar kata ibu dulu  kalau waktu adalah uang. Yang jelas sih, hampir tiga minggu ini resmi sudah nggak leluasa lagi ongkang-ongkang nontonin serial yg ngabisin waktu, baca novel berjam-jam, atau sekedar browsing dan nontonin yutub nggak penting semaleman apalagi nulis di blog ini (pengen nangis).

Rasanya sekarang jadi berasa punya utang kalo pagi belom ngepost artikel buat hari itu. Eh ternyata sejauh ini alhamdulillah bisa juga setelah dijalanin, mau nggak mau harus ngatur waktu dan latian kerja cepet juga di sela sela PKPA di Puskesmas dan Apotek. Kalau mau ngintip kerjaan aku bisa dilihat di sini, hehehe.

Ngomong-ngomong, karena keseringan nyari foto dapur bagus buat bahan nulis artikel, jadi kepikiran pengen bikin wishlist dapur buat rumah aku suatu saat nanti (kapan punya rumahnya dipikir ntaran aja yang penting wishlist nya dulu, ahahaha).

Kunci style buat desain dapur favoritku yang jelas adalah: simple, sleek, modern, small, bright, dan decor nya lucu-lucu tapi fungsional. Kalo dibilang modern country style boleh gak ya (bikin-bikin sendiri). Aku yang jelas gak terlalu suka yang konsepnya terlalu minimalis dan kontemporer apalagi yang terlalu banyak stainless steel, somehow terasa seperti restoran (atau malah ruang operasi di rumah sakit?).

Oke ini dia tiga kitchen wishlist versi aku:

1. Cottage Kitchen

sumber: thekitchn.com
Ini adalah desain dapur sebuah cottage di daerah Maine (dimana pula itu?). Hmm. Sepertinya kalau bangun dapur semacam ini di perkotaan nggak mungkin ya, karena pasti bakalan panas banget haha. Tapi aku suka sekali perpaduan unsur kayu dan warna merahnya, dengan langit-langit dari kaca transparan. Kan seru kalau masak malem-malem sambil liat bintang, hihihi.

2. IKEA Design
sumber: IKEA
Who doesn't love IKEA? Naksir berat sama desain-desain home appliance nya IKEA  -yang kabarnya tahun ini bakal buka di Jakarta-. Begitu pula dengan dapur ini. Suka dengan ide pot-pot tanaman di dekat jendela itu. Kebayang kalau punya yang kaya gini mau diisi ama pot-pot tanaman bumbu seperti mint, oregano, parsley, kemangi,  dll.

3. White Kitchen
sumber: homedit.com
Aku suka segala hal dari desain dapur ini. Ya layoutnya, ya appliances-nya, ya palet warnanya. Cocok buat rumah yang ga terlalu besar jadi lebih hemat ruang. Yang di bagian depan bentuknya mirip tiang itu sebenernya bagian dari pintu geser kaca berbingkai kayu dicat putih. Tapi kalau dihilangkan atau diganti sekat pendek rasanya gak masalah.

Entah kenapa suka banget sama dapur-dapur mungil yang warnanya didominasi putih. Mau dikasih countertop kayu, granit, atau marmer selalu aja keliatan bagus. Simpel dan bersih juga dilihatnya. Cuma kalau yang all white gitu gak terlalu suka malahan.

Yaudah, segitu aja wishlist aku. Semoga segera diberi rezeki buat bikin dapur kaya gitu deh ya, atau ada yang sukarela mau bikinin aku? :D

*setelah dibaca lagi banyak juga nyebut kata 'suka' -__-