"Menyembuhkan pengalaman masa kecil kita bukan berarti menyalahkan orangtua. Kitalah yang bertanggungjawab atas penyembuhan diri kita". Itulah secuplik kalimat yang ditayangkan di Webinar dalam rangka Anniversary ke-10 School of Parenting
Webinar diadakan selama 3 hari, yaitu pada tanggal 10, 11, dan 12 November 2022. Berikut sedikit sharing ilmu yang saya peroleh di hari pertama dengan tema "Mengenali Tubuh yang Merekam Luka Batin".
Sesi dr. Yudhi Gejali
Bagaimana proses luka terbentuk? Luka terbentuk karena ada
suatu kejadian traumatis yang tidak terselesaikan/belum melewati fase-fase yang
seharusnya secara utuh/complete.
Seharusnya ada beberapa fase yang harus dilewati saat menghadapi kejadian traumatis,
yang setiap fasenya berhubungan dengan unsur tertentu sbb:
- Fase keterkejutan saat menghadapi kejadian tersebut (Shock/Freeze). Elemen: logam
- Fase orientasi dalam mengukur kemampuan diri/kalkulasi risiko sebelum bertindak dalam merespon kejadian. Elemen: api
- Fase tindakan/respon atas kejadian tersebut, untuk mencapai tujuan (goal) yang diinginkan. Elemen: kayu
- Fase penerimaan (completion) atas kejadian traumatis tersebut, kemudian menjadi pengalaman yang terintegrasi di dalam diri kita. Organ: jantung.
1 kejadian traumatis menimbulkan 1 luka dalam diri
seseorang, yang apabila bisa sampai ke fase penerimaan dengan baik akan
menambah kebijaksanaan (wisdom),
namun jika tidak selesai/stuck di
salah satu fase maka akan menimbulkan penyakit (fisik maupun mental).
Emosi apa saja yang menimbulkan frekuensi kurang baik untuk
kesehatan kita?
- Emosi yang terlalu kuat (serangan jantung)
- . Emosi yang tidak kuat tapi terus menerus (kanker payudara)
- . Emosi yang terjadi beberapa kali selama hidup tapi menimbulkan trauma
Tubuh kita terdiri dari banyak organ yang memiliki
intelegensi masing-masing. Mereka merekam memori hidup kita. Setidaknya ada 5
organ utama yang harus kita perhatikan:
- Ginjal : motivasi, kekhawatiran
- Liver: kemarahan
- Jantung: semangat, cinta kasih, energi besar
- Lambung : overthinking
- Paru-paru
Prinsip kesehatan holistik adalah sehat yang mencakup
pikiran, jiwa, dan raga (mind, body and soul). Frekuensi yang terpancar dari
jiwa dan pikiran kita akan mempengaruhi vitalitas organ. Jika salah satu organ
bermasalah, bisa jadi itu merupakan cara tubuh untuk berkomunikasi bahwa ada
yang salah dengan frekuensi jiwa dan pikiran kita. Bagaimana cara agar lebih
peka mendengar sinyal-sinyal yang dikomunikasikan oleh organ kita?
1.
Kenali lokasi dan fungsi organ kita terutama
kelima organ penting.
2.
Konsentrasi dan rasakan denyut jantung, nafas
dan aliran darah kita.
3.
Sapa dan ucapkan terima kasih atas kerja keras
organ kita selama ini (memancarkan frekuensi cinta kasih)
4.
Semakin lama berlatih akan semakin peka emosi
yang tertahan dan mengacaukan fungsi organ kita.
Sesi dr. Yovi Yoanita
Saat terjadi peristiwa traumatis, bagian otak yang berperan
di alam bawah sadar (amygdala) akan menyala dan memunculkan fight or flight response (freeze). Jika
terjadi pada hewan, biasanya hewan tersebut seperti pura-pura mati.
Tiap orang punya belief
system (mindset) yang telah
tertanam sepanjang hidupnya, hingga masuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi
epigenetik. Orang sering mengira sebagai penyakit turunan, padahal merupakan
alam bawah sadar yang terprogram turun menurun.
Mindset yang tertanam ini akan mempengaruhi persepsi/sudut
pandang dalam melihat suatu kejadian. Persepsi ini akan mempengaruhi tindakan
yang diambil dalam merespon suatu kejadian. Jika kejadian yang dialami berbeda
dengan belief system yang dianut, maka pikiran (amygdala) akan menyalakan alarm
emosi dan feeling. Jika emosi dan feeling ini terus menerus ditekan dengan
harapan agar “sabar dan ikhlas”, maka akan tersimpan dan menumpuk sehingga
timbul penyakit fisik.
Bagaimana cara mengatasi emosi yang muncul terlalu intens?
- Netralkan dengan mengubah sudut pandang. Hilangkan judgement right or wrong, hapus mental victim (apa yang terjadi kepada saya sekarang adalah akumulasi pilihan-pilihan hidup saya sebelumnya)
- Lakukan clearing statement (destroy and cancel) terhadap belief system yang tidak memberdayakan (sadari diri kita yang sekarang, lepaskan dari kehidupan masa lalu, ambil pilihan dengan sadar)
Kedua tindakan di atas terdengar
sederhana tetapi cukup berat dilakukan tanpa bantuan ahli. Dapat dibantu dengan
beberapa metode, salah satunya hypnotherapy
dan metode anchor. Lebih sulit lagi
jika orang tersebut belum lepas dari mental
victim dan memiliki mirroring brain
(mengambil emosi orang lain yang memiliki trauma, padahal yang bersangkutan
sebenarnya tidak mengalami trauma).
Metode anchor bisa
coba dilakukan sendiri untuk mengubah mindset,
dimulai dari “mau jadi seperti apa diriku sekarang? Mau diarahkan kemana diriku
sekarang?”
Proses trauma healing
dan mengubah mindset yang tidak memberdayakan bisa berjalan beriringan. Sadari
pilihan yang diambil oleh pikiran kita, jangan dikendalikan oleh emosi. Otak
bisa mengizinkan suatu kondisi terjadi/pilihan diambil jika ada keuntungan yang
diterima oleh diri kita.
