Wednesday, November 16, 2022

MENGENALI TUBUH YANG MEREKAM LUKA BATIN

 "Menyembuhkan pengalaman masa kecil kita bukan berarti menyalahkan orangtua. Kitalah yang bertanggungjawab atas penyembuhan diri kita". Itulah secuplik kalimat yang ditayangkan di Webinar dalam rangka Anniversary ke-10 School of Parenting


Webinar diadakan selama 3 hari, yaitu pada tanggal 10, 11, dan 12 November 2022. Berikut sedikit sharing ilmu yang saya peroleh di hari pertama dengan tema "Mengenali Tubuh yang Merekam Luka Batin". 

Sesi dr. Yudhi Gejali

Bagaimana proses luka terbentuk? Luka terbentuk karena ada suatu kejadian traumatis yang tidak terselesaikan/belum melewati fase-fase yang seharusnya secara utuh/complete. Seharusnya ada beberapa fase yang harus dilewati saat menghadapi kejadian traumatis, yang setiap fasenya berhubungan dengan unsur tertentu sbb:

  1. Fase keterkejutan saat menghadapi kejadian tersebut (Shock/Freeze). Elemen: logam
  2. Fase orientasi dalam mengukur kemampuan diri/kalkulasi risiko sebelum bertindak dalam merespon kejadian. Elemen: api
  3. Fase tindakan/respon atas kejadian tersebut, untuk mencapai tujuan (goal) yang diinginkan. Elemen: kayu
  4. Fase penerimaan (completion) atas kejadian traumatis tersebut, kemudian menjadi pengalaman yang terintegrasi di dalam diri kita. Organ: jantung. 

1 kejadian traumatis menimbulkan 1 luka dalam diri seseorang, yang apabila bisa sampai ke fase penerimaan dengan baik akan menambah kebijaksanaan (wisdom), namun jika tidak selesai/stuck di salah satu fase maka akan menimbulkan penyakit (fisik maupun mental).

Emosi apa saja yang menimbulkan frekuensi kurang baik untuk kesehatan kita?

  •          Emosi yang terlalu kuat (serangan jantung)
  • .       Emosi yang tidak kuat tapi terus menerus (kanker payudara)
  • .       Emosi yang terjadi beberapa kali selama hidup tapi menimbulkan trauma

Tubuh kita terdiri dari banyak organ yang memiliki intelegensi masing-masing. Mereka merekam memori hidup kita. Setidaknya ada 5 organ utama yang harus kita perhatikan:

  1. Ginjal : motivasi, kekhawatiran
  2.  Liver: kemarahan
  3. Jantung: semangat, cinta kasih, energi besar
  4. Lambung : overthinking
  5.  Paru-paru

Prinsip kesehatan holistik adalah sehat yang mencakup pikiran, jiwa, dan raga (mind, body and soul). Frekuensi yang terpancar dari jiwa dan pikiran kita akan mempengaruhi vitalitas organ. Jika salah satu organ bermasalah, bisa jadi itu merupakan cara tubuh untuk berkomunikasi bahwa ada yang salah dengan frekuensi jiwa dan pikiran kita. Bagaimana cara agar lebih peka mendengar sinyal-sinyal yang dikomunikasikan oleh organ kita?

1.       Kenali lokasi dan fungsi organ kita terutama kelima organ penting.

2.       Konsentrasi dan rasakan denyut jantung, nafas dan aliran darah kita.

3.       Sapa dan ucapkan terima kasih atas kerja keras organ kita selama ini (memancarkan frekuensi cinta kasih)

4.       Semakin lama berlatih akan semakin peka emosi yang tertahan dan mengacaukan fungsi organ kita.

 

Sesi dr. Yovi Yoanita

Saat terjadi peristiwa traumatis, bagian otak yang berperan di alam bawah sadar (amygdala) akan menyala dan memunculkan fight or flight response (freeze). Jika terjadi pada hewan, biasanya hewan tersebut seperti pura-pura mati.

Tiap orang punya belief system (mindset) yang telah tertanam sepanjang hidupnya, hingga masuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi epigenetik. Orang sering mengira sebagai penyakit turunan, padahal merupakan alam bawah sadar yang terprogram turun menurun.

Mindset yang tertanam ini akan mempengaruhi persepsi/sudut pandang dalam melihat suatu kejadian. Persepsi ini akan mempengaruhi tindakan yang diambil dalam merespon suatu kejadian. Jika kejadian yang dialami berbeda dengan belief system yang dianut, maka pikiran (amygdala) akan menyalakan alarm emosi dan feeling. Jika emosi dan feeling ini terus menerus ditekan dengan harapan agar “sabar dan ikhlas”, maka akan tersimpan dan menumpuk sehingga timbul penyakit fisik.

Bagaimana cara mengatasi emosi yang muncul terlalu intens?

  1. Netralkan dengan mengubah sudut pandang. Hilangkan judgement right or wrong, hapus mental victim (apa yang terjadi kepada saya sekarang adalah akumulasi pilihan-pilihan hidup saya sebelumnya)
  2. Lakukan clearing statement (destroy and cancel) terhadap belief system yang tidak memberdayakan (sadari diri kita yang sekarang, lepaskan dari kehidupan masa lalu, ambil pilihan dengan sadar)

Kedua tindakan di atas terdengar sederhana tetapi cukup berat dilakukan tanpa bantuan ahli. Dapat dibantu dengan beberapa metode, salah satunya hypnotherapy dan metode anchor. Lebih sulit lagi jika orang tersebut belum lepas dari mental victim dan memiliki mirroring brain (mengambil emosi orang lain yang memiliki trauma, padahal yang bersangkutan sebenarnya tidak mengalami trauma).

Metode anchor bisa coba dilakukan sendiri untuk mengubah mindset, dimulai dari “mau jadi seperti apa diriku sekarang? Mau diarahkan kemana diriku sekarang?”

Proses trauma healing dan mengubah mindset yang tidak memberdayakan bisa berjalan beriringan. Sadari pilihan yang diambil oleh pikiran kita, jangan dikendalikan oleh emosi. Otak bisa mengizinkan suatu kondisi terjadi/pilihan diambil jika ada keuntungan yang diterima oleh diri kita.