Wednesday, May 17, 2023

The Difference Between Happiness and Contentment

Kita sering mendengar premis ‘Mengejar Kebahagiaan’ (Pursuit of Happiness). Bahkan sebagian dari kita mungkin tanpa sadar mengadopsi dan meyakininya hingga masuk ke alam bawah sadar (belief). Dari keyakinan ini, banyak orang dengan alasan mencari kebahagiaan, akhirnya melakukan hal-hal yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Sebagai manusia yang mampu memimpin kehendaknya, keputusan bertindak yang dampaknya tidak ekologis seperti ini tentu ingin kita hindari.

Maka, ada baiknya kita pertanyakan kembali. Apakah benar hidup ini mencari kebahagiaan? Kebahagiaan apa yang benar-benar bisa memuaskan kita? Apa definisi kebahagiaan sebenarnya? Silakan dibaca tulisanku yang menyadur dari postingan penggagas Enlightening Empowering, Bu Okina Fitriani.

Menurut KBBI, bahagia adalah: “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)

Pertanyaannya, mungkinkah kita terbebas dari segala sesuatu yang menyusahkan? Mungkin, tapi bukan saat kita hidup di dunia, melainkan nanti di surga. Ini bukan opiniku atau siapapun, melainkan Allah SWT langsung di QS.Al Baqarah:2 yang menyampaikan bahwa manusia di dunia akan diuji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan.

Berarti jika kita tetap menginginkan keadaan atau perasaan senang dan tenteram di dunia ini bersifat kekal, tentu tidaklah mungkin. Yang mungkin adalah kita mengupayakan keadaan atau perasaan senang dan tenteram namun harus disertai kesadaran bahwa keadaan atau perasaan ini bisa pergi dan digantikan keadaan dan emosi-emosi lainnya (please read my previous article).

Terinspirasi dari buku The Art of Thinking Clearly, perlu dibedakan sekedar perasaan bahagia (happiness) dan perasaan bahagia yang disebabkan kepuasan hati (contentment). Mungkin pasangan, anak, dan limpahan harta bisa menghadirkan sekedar happiness bagi setiap orang, namun biasanya tidak bertahan lama.

Persepsi masing-masing orang tentang apa yang bisa membuat mereka bahagia dan berpuas hati bisa berbeda, tergantung value dan tujuan masing-masing. But at the end of the day, kita tentu ingin merasa puas dengan apa yang kita miliki dan rasakan hari ini. Itulah yang dinamakan contentment. It's longer lasting than happiness, which consists of gratitude and satisfaction.

Kita mungkin sering merasa telah puas mencapai sesuatu. Tapi masalahnya, yang puas ini inner self (pikiran dan perasaan kita) atau outer self (pekerjaan, harta, pasangan, anak, image kita di mata orang lain, dll) kita? It’s dangerous jika kita membebankan fulfillment or happiness ke outer self. Akhirnya kita tidak akan pernah merasa content karena goals nya berubah-ubah terpengaruh oleh apapun di luar diri kita. Poin pentingnya adalah kita akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan hati saat kita yakin telah memberikan usaha maksimal untuk mencapai misi hidup kita. Sulit mendapatkan contentment jika kita belum tahu apa yang menjadi misi hidup kita di dunia dan bagaimana cara menjalankannya.

Di sisi lain ada konsep jiwa yang tenang (tuma’ninah) yang seharusnya menjadi tujuan hidup setiap Muslim. Tuma’ninah artinya adalah ketentraman dan ketenangan hati, yang ditandai dengan hilangnya kegundahan, kekhawatiran dan guncangan dari dalam diri. Sepintas mirip dengan contentment, namun lebih spesifik lagi karena Allah menekankan dalam QS.  Ar Ra’d:28 "Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram."

Ada benang merah yang bisa ditarik dari konsep contentment ini dengan tuma’ninah, yaitu melepaskan diri kita dari outer self yang melekat, karena kelak kita akan mati dan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir juga tanpa membawa outer self tersebut. Sekarang aku juga lagi berusaha menghadirkan contentment di hidupku. Menutup mata di akhir hari dengan terlebih dahulu memaafkan diri sendiri dan orang lain yang pernah menghadirkan luka di diri ini, lalu mensyukuri segala yang telah dikaruniakan oleh-Nya dengan konsisten menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Untuk apa? Agar bisa terus terhubung dengan Sang Pemilik Jiwa, karena hanya dengan rahmat-Nya lah tuma’ninah bisa kita rasakan.

Pursuit of Happiness ada baiknya digantikan dengan Pursuit of Contentment or Tuma'ninah (for Moslem). Maybe because our happiness is already inside of us. But the contentment, it's more challenging to achieve, yet so impactful for our life in the world and hereafter.

Benarkah Hidup Ini Mencari Kebahagiaan?

 Pernah dengar kalimat-kalimat seperti ini:

“Kalau aku menikah dengan dia, pasti aku bahagia.”

“Aku nggak bahagia kerja di sini karena bosnya galak!”

“Aku mau ganti jurusan kuliah, di sini aku nggak bahagia!”

Menurut KBBI, definisi bahagia adalah: “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)

Padahal Bahagia adalah suatu “emosi/perasaan” yang bisa “berubah-ubah”, suatu kondisi yang “tidak menetap”.

Mungkin bisa lebih dipahami dari contoh ini:

Ketika kita sedang di pinggir air terjun kemudian merasakan indahnya ciptaan Allah, mensyukuri mata dan telinga yang kita miliki sehingga bisa menikmati pengalaman ini. Pada saat itu, kita merasa bahagia. Tiba-tiba ada bunyi petasan meleduk kencang “Duaarrrr!”, kita kaget dan merasa marah. Suara petasan selesai, ada pengunjung memutar lagu dangdut yang liriknya lucu, kita merasa geli. Semenit kemudian, mayat seekor kucing lewat di pandangan kita melalui aliran air, kita merasa sedih.

Begitulah setiap kondisi yang kita alami dalam hidup ini. Situasi air terjun itu adalah pernikahan, pekerjaan, sekolah, dll.

“Bahagia” seperti halnya emosi lainnya yang bisa datang dan pergi. Rasa bahagia adalah sebuah keputusan yang kita ciptakan sendiri tergantung fokus dan tindakan kita.

Ketika petasan datang, bisa kita selesaikan dengan banyak cara:

·         Pasang earphone, nikmati musik

·         Beli area air terjun itu dengan radius 1 km lalu pagari

·         Kirim orang untuk ajak si pemain petasan beli es mambo

Boleh tidak memilih menyerah dan mencari air terjun lain yang lebih indah dan sepi?

Tentu Boleh.

Tapi pertimbangkan dulu, apakah itu keputusan yang:

·         Merupakan hasil pemikiran matang atau hanya emosi sesaat.

·         Paling efektif dan efisien secara konsekuensi dunia, meliputi effort, cost, time, dll

·         Jika air terjun itu adalah pernikahan, pikirkan konsekuensi akhiratnya. Siapa saja yang tersakiti dan diabaikan hak-haknya? Kerusakan dan kemaksiatan apa saja yang telah dan akan dilakukan setelah air terjun itu ditinggalkan.

Kalau kemudian berharap bahwa di air terjun yang baru nanti tidak akan ada gangguan dan tantangan apapun itu adalah harapan yang ngadi-ngadi ya, bestii :D

Kalaupun tak ada petasan, mungkin ada badai. Kalaupun tak ada mayat kucing, mungkin ada kotoran manusia.

"Namanya juga dunia, kalau mau sepenuhnya bahagia ya nunggu nanti di surga. Bagaimana mau mendapat surga, kalau baru mendapat tantangan kecil saja sudah putus asa, memilih cara yang Allah tidak ridho."

Bu Okina bilang, kalau rasa bahagia bisa kita ciptakan sendiri dalam hitungan detik. Caranya:

1.       Dengan menghadirkan memori kejadian-kejadian yang kita syukuri dalam hidup ini. Contoh: kelahiran anak, lulus ujian, diterima di universitas idaman, berjumpa dengan ayah ibu setelah lama berpisah, pengalaman liburan yang indah, pengalaman menolong orang yang membutuhkan, berhasil mempresentasikan ide brilian, memandang wajah bayi kita saat disusui, dll.

2.       Lalu perkuat rasa syukur yang hadir dalam diri dan sebarkan ke seluruh tubuh.

Kata Allah dalam QS.Al Mukminun:78: “Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati (perasaan dan pikiran), tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

Pendengaran dan penglihatan bukan saja yang terdengar saat ini, tapi juga yang tersimpan dalam memori kita. Itulah mengapa banyak penelitian membuktikan bahwa orang yang membuat jurnal kebersyukuran lebih sehat secara mental - Sansone and Sansone (2010). Gratitude and well being: the benefits of appreciation, Psychiatri (Edgemont), 7 (11), 18. Emmons, R.A., Froh, J., & Rose, R (2019). Gratitude

Mudah bukan menghadirkan kebahagiaan?

Bahkan dalam Islam, tidak ada satupun perintah mencari kebahagiaan di dunia. Yang diperintahkan kepada manusia adalah mencari jalan yang benar, bersyukur, bersabar, menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

“Bahagia di level dunia adalah sebuah keputusan untuk menjaga :

1.       Pikiran yang membuat pilihan yang benar

2.       Hati yang bersyukur

3.       Jiwa yang tenang (calm/tuma’ninah)

4.       Fisik yang sabar berikhtiar”


Ps: Tulisan ini disadur dari instagram post Bu Okina Fitriani, psikolog kesayangan dan panutanku.

Wednesday, May 10, 2023

Berkenalan dengan Emosi Marah dan Menjadikannya Kekuatan Diri

Adakah disini yang sampai sekarang masih kesulitan mengenali emosi “marah” dalam diri kita? Mungkinkah ada orang yang benar-benar terbebas dari rasa marah seumur hidupnya? Yap. Tentu semua orang pernah merasa “tidak suka” yang ujungnya bisa menjadi “benci” terhadap sesuatu. Itulah bentuk kemarahan paling kecil dalam hati yang mungkin secara sengaja atau tidak kita abaikan. Bagaimana bila pengabaian ini berlangsung secara terus menerus, bertahun-tahun, hingga kita menyimpulkan bahwa kita tidak pernah marah? Please read my previous article and you’ll find the answer.

Begitu pula jika sebaliknya, kemarahan tak terkendali tentu akan merugikan diri kita sendiri maupun menimbulkan trauma bagi orang di sekitar kita. Anak-anak yang sering dimarahi orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan mengekspresikan emosinya secara sehat juga di kemudian hari. So, sangat penting bagi orangtua untuk bisa menyelesaikan emosi di masa lalu agar tidak menjadi pola yang diwariskan turun temurun.

Belief yang Salah

Sebelum loncat ke solusi, aku mau coba identifikasi dulu bagaimana seseorang menafikan emosi marah. Sebagai orang Indonesia, aku sangat sering mendapat nasihat semacam “sabar, jangan marah”; “yang waras ngalah”; atau “konflik itu tidak baik”. Hal ini lambat laun menancap di alam bawah sadarku untuk selalu mengusir perasaan “tidak suka” agar tidak mewujud menjadi perdebatan atau konflik dengan orang lain.

Padahal Allah SWT menciptakan emosi marah tentu bukan tanpa manfaat. Rasa marah secara naluri/fitrah akan muncul saat kita merasakan ketidakadilan sehingga nantinya kita tergerak untuk memperbaiki. Bahkan selemah lemahnya iman adalah mengingkari kemungkaran dengan hati, jika belum mampu menggunakan tangan atau lisannya. Artinya, konflik bukanlah hal yang harus dihindari. Konflik adalah sesuatu yang dapat kita kelola untuk menjadi konflik yang sehat dan membangun. Menghindari konflik yang terjadi saat ini bukan berarti konflik telah selesai, namun justru berpotensi menimbulkan konflik yang lebih besar di kemudian hari.

Tidak Tahu Cara Mengekspresikan Emosi yang Sehat

Emosi marah yang diekspresikan secara tak terkendali biasanya muncul karena kurangnya skill mengelola emosi. Berlatih untuk self distance atau teknik disosiasi akan sangat membantu kita melepaskan emosi marah, alih-alih menahannya. Teknik ini dapat kita latih dengan memisahkan diri kita dari emosi “negatif” lalu menjadi observer dari perilaku kita sendiri. Bagi Muslim, sebaiknya me-lafadz-kan ta’awudz terlebih dahulu. Setelah itu, ubah posisi dengan mundur 3 langkah atau duduk dan lepaskan emosi marah di tempat semula. Pastikan diri kita telah mengakui dan menerima rasa marah tersebut, syukuri dan sadari alasan kita marah lalu minta ia pergi dengan lembut. Di posisi baru tersebut, kita mengamati situasi lalu menasihati diri kita sendiri untuk memilih respon yang tepat tanpa terbawa emosi. Insya Allah yang tersisa adalah kekuatan untuk menyelesaikan konflik dengan bijak.

Bisa juga dengan teknik anchor atau memanggil emosi yang lebih memberdayakan seperti emosi percaya diri, bahagia, tenang atau bersemangat. Teknik ini dapat kita kuasai dengan menciptakan tombol percaya diri, tombol semangat, atau tombol bahagia sesuai emosi yang kita inginkan. Begini  langkah-langkah yang disampaikan Bu Okina Fitriani dalam buku Enlightening Parenting:

  1. Tentukan satu titik yang ingin kita jadikan tombol emosi tertentu, lalu tekan titik tersebut
  2. Mengingat emosi intens yang pernah kita alami sesuai kebutuhan sampai benar-benar terasa nyata
  3. Menetralkan emosi
  4. Berlatih dengan menekan tombol dan merasakan lagi emosi yang diinginkan.

Yuk, kita latih diri untuk lebih memahami emosi yang muncul dari dalam diri. Emosi marah itu valid kok, hanya perlu kita kuasai teknik-teknik untuk mengontrolnya agar terasa lebih memberdayakan, bahkan menjadikannya kekuatan diri kita. Artikel Pak Prasetya M Brata ini sangat bagus menggambarkan bagaimana memberdayakan emosi "negatif" berupa rasa malas yang beliau namai "Sang Berat" untuk membiasakan diri sholat Dhuha.  Di samping itu, penting juga untuk menguasai skill manajemen konflik. Karena jika memang diperlukan, berkonflik dengan orang lain atau bahkan dengan diri kita sendiri mungkin akan menjadi salah satu catatan amal kebaikan kita.

Friday, May 5, 2023

Emosi: Memberdayakan atau Melemahkan? Itu pilihanmu.

 Assalamu’alaikum, folks!

Sudah lama aku menyadari bahwa pikiran, perasaan, dan tindakan orang lain berada di luar kendali kita. Satu-satunya hal yang bisa kita kontrol adalah pikiran, perasaan, dan tindakan kita sendiri. Begitu simpelnya teori ini sebenarnya, tapi ternyata nggak semudah itu juga diterapkan di kehidupanku. Beranjak dewasa, aku sebenarnya sudah bisa memfilter apapun yang kulihat, kudengar, dan kurasa sehingga otakku mampu berpikir jernih dalam memikirkan solusi setiap masalah. Perasaan muncul silih berganti dan kadang kurespon dengan perilaku yang kurang memberdayakan.

Sejak aku kenal Bu Okina Fitriani (seorang psikolog dan konsultan) dari Instagram, aku mulai berkenalan dengan emosiku sendiri. Dalam suatu interview bertopik "Mengelola Emosi" yang terdiri dari part 1 dan part 2, Bu Okina menjelaskan tentang hikmah manusia dianugerahi berbagai emosi oleh Allah SWT.

Manusia bisa merasakan bahagia, sedih, takut, kecewa, khawatir, marah, bersemangat, bersalah dll. Sayangnya, banyak manusia yang tidak terbiasa mengakui emosi yang terlihat negatif seperti sedih, takut, marah, atau bersalah. Hingga akhirnya tidak bisa mengontrol perilaku yang keluar sebagai respon dari emosi yang terpendam tersebut. Makin lama dipendam, makin sakitlah psikisnya dan akhirnya mampu menyakiti orang lain dalam bentuk ego yang lapar. Itulah tanda jika seseorang terjebak dalam emosi dan dikendalikan oleh emosinya sendiri. 

Saat bersedih, memang rasanya tidak enak. Terlebih jika kita selami perasaan sedih itu, pasti air mata akan mengalir. Just let it go. Mungkin terasa tidak nyaman, but believe me, setelahnya akan terasa lebih ringan saat kita terima rasa sedih itu lalu biarkan ia pergi tertutup emosi baru lagi. Seperti yang dikatakan Bu Okina bahwa emosi sedih diciptakan Allah bukan tanpa manfaat. Kesedihan melahirkan empati. Maka penting bagi kita menyelesaikan emosi sedih tersebut sampai tuntas agar yang tersisa adalah kekuatan untuk melangkah dan menemukan solusi. 

Apa yang terjadi kalau si sedih kita tolak keberadaannya? Ia akan terus ada disitu, enggan pergi dan sewaktu-waktu mudah bangkit jika dipicu trigger nya. Tak terasa kita jadi memelihara emosi yang tidak memberdayakan tadi bertahun-tahun dan lambat laun menjadi bom waktu yang membuat respon kita justru merugikan kita sendiri. Mungkin inilah yang dimaksud Powerless seperti yang dijelaskan oleh seorang guru NLP, Pak Prasetya M Brata.

Saat kita telah menyelesaikan emosi kita, artinya kita bisa menerima diri kita seutuhnya, lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh diri kita, dan bisa menentukan langkah apa yang bisa membuat kita menjadi lebih baik. Bayangkan jika diri kita tidak mendapat apa yang sebenarnya ia butuhkan simply hanya karena kita menyangkal emosi yang sedang kita rasakan. Sayang sekali jika akhirnya kita menjadi pribadi yang tidak bisa berproses menjadi lebih baik karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Mengingat sepenting itu emosi mampu memberdayakan atau melemahkan kita, pesanku hanya satu. Kalau kamu ingin lebih berdaya dan tidak terjebak di kesalahan yang sama berulang kali, please coba saran berikut ini. Akui, lalu terima setiap emosi yang muncul, rasakan dan lepaskan sampai ia benar-benar pergi.

Tuesday, May 2, 2023

What You Should Know After You Say I Do (Tips Bangun Hubungan Pernikahan yang Sehat dan Bahagia)

 

Hello, folks!

Beberapa hari yang lalu, aku ikut webinar dari Trulav.id berjudul ‘After You Say I Do’. Di webinar tersebut, peserta diajak memahami framework yang menjelaskan logika kenapa hubungan susah seru, terbuka, dan respek, serta 3 step untuk memiliki relationship yang bisa works untuk jangka panjang. Let’s check it out.

Secret 1: Penyebab Relationship Susah Seru, Terbuka, dan Respek

Banyak pasangan yang nggak memahami esensi dari membangun suatu hubungan/pernikahan. Mindset yang benar yaitu relationship sebagai pelipatganda kebaikan dan kendaraan mencapai tujuan. Kebanyakan awalnya merasa hubungan dengan pasangan seru dan nyambung sehingga memutuskan untuk bersama. Namun, seiring berjalannya waktu, terungkaplah perilaku buruk pasangan serta adanya ego yang lapar sebagai wujud dari luka batin yang terjadi di masa lalu. Laparnya ego ini adalah penghalang pemahaman sehingga berisiko merugikan secara ekologis. Ego lapar ini dapat diindikasikan dari perilaku yang tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, sehingga berakibat kacaunya segala aspek kehidupan (ekonomi, relationship, parenting, dll). PR besar bagi pasangan dengan luka masa lalu adalah proses penyembuhan (trauma healing), sehingga akan didapatkan self esteem yang penuh sebagaimana fitrah manusia. Self esteem (menyayangi, menerima, dan merasa diri berharga) perlu dimiliki sebagai salah satu pondasi upgrade diri, di samping pemahaman tentang Power Zone (kekuatan diri atas hal-hal yang bisa dikontrol).

Jika pernikahan tidak memiliki tujuan yang jelas di awal, kemudian dibiarkan berlarut-larut dan ditambah tidak adanya keterbukaan, maka yang terjadi adalah hubungan akan minim respek. Fatal akibatnya jika tidak dibarengi dengan pertumbuhan kedewasaan antara suami dan istri.

Kesimpulan: Kecocokan + Keterbukaan = Respek

Secret 2: Tiga Hal yang Bikin Relationship Long Last

a.       Kecocokan (compatibility) adalah kesamaan antara tiga komponen yaitu tujuan (vision), hal-hal yang diyakini (beliefs), dan prinsip/nilai (values) adalah hal yang sangat membantu jika terjadi konflik.  Setelah Terbukti Cocok, Biasakan Terus Bangun Keakraban (Keseruan yang berkelanjutan)

Tugas utama otak manusia adalah kemampuan bertahan hidup (survivability), sehingga kita akan merasa aman jika berbicara dengan orang yang memiliki kemiripan dengan kita. Manusia cenderung menolak pemikiran dari orang yang tidak akrab / tidak mirip pola pikirnya dengan kita. Kemiripan pola pikir jauh lebih kuat daripada sekedar bahasa tubuh dan verbal. Seru yang berkelanjutan adalah hubungan yang tumbuh ke arah yang sama dan pada akhirnya akan berkolaborasi untuk mencapai tujuan.

 

Fulfillment = Growth + Contribute

 

b.      Keterbukaan

Penyebab sulitnya membangun kebiasaan terbuka adalah karena pengalaman “disakiti/dilukai” oleh laparnya ego orang lain saat menunjukkan sedikit keterbukaan/kelemahan di hadapan orang lain tersebut. Penting untuk bisa membedakan antara “perilaku menyakiti” dan “merasa tersakiti”.

Kemampuan memahami perbedaan energi (energy polarity) antara feminin dan maskulin sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan batin satu sama lain. Misalnya, kebutuhan utama saat dominan energi feminin adalah: dilihat dan diperhatikan. Sedangkan saat energi maskulin yang mendominasi, kebutuhan utamanya adalah merasa berguna dan dibutuhkan.

Di samping rasa aman yang harus kita pastikan dapat dirasakan oleh pasangan, dibutuhkan penerimaan yang besar atas kelemahan pasangan. Tips agar lebih mudah menerima: “cari apa maksud baik dari semua ini?” Tanpa rasa aman dan penerimaan, tidak akan ada keterbukaan.

 

Terbuka = Merasa aman + Merasa diterima

 

c.       Respek

Respek tidak bisa dituntut/dipaksakan, hanya bisa didapatkan (earned) setelah trust terbangun. Respek hanya datang dari penerimaan dan kepercayaan. Yang dimaksud menerima bukanlah menerima perilaku buruk pasangan (keadaan saat ini), namun menerima proses bertumbuh bersamanya. Dalam Islam kita diperintahkan untuk bersabar. Namun, Allah juga menyatakan bahwa keadaan suatu kaum tidak akan diubah melainkan atas usaha kaum tersebut sendiri. Artinya, kita diperintahkan untuk sabar terhadap proses mengubah dari perilaku buruk ke perilaku yang diperintahkan Allah SWT (bertumbuh).

Dibutuhkan kemampuan adaptability atas beberapa hal seperti:

·         Kebiasaan

·         Karakter

·         Cara kerja

·         Cara belajar

·         Cara ambil keputusan

·         Cara atur keuangan

·         Gaya berpakaian

Tips lebih mudah menerima dan adaptable:

·         Apa pikiran yang melandasi ini?

·         Apa maksud baik dari perilaku ini?

Secret 3: Tahapan Membangun Hubungan Seru, Terbuka, dan Respek

a.       Step 1. Pastikan kecocokan dengan pasangan (memiliki tujuan yang sama, meyakini nilai dan prinsip yang sama)

Bagaimana jika ternyata tidak cocok (ada yang mengganjal)?

1.       Minta izin untuk deep talk

2.       Cari momen yang tepat

3.       Tentatif (sampaikan jika kita mungkin salah)

4.       Tunjukkan gap dengan data yang obyektif

5.       Buat kesepakatan bersama

b.      Step 2. Buat goals bersama berdasarkan Vision, Beliefs, Values

Goals dari 8 aspek kehidupan (wheels of life balance), sepakati dengan pasangan minimal 3 aspek prioritas.

Rancang bersama proposal hidup

·         Dinyatakan dalam kalimat positif

·         Bisa dilihat dan didengar

·         Kontekstual

·         Datang dari diri sendiri

·         Memiliki Langkah

·         Dalam jangka waktu

·         Menarik untuk dicapai

·         Memiliki KPI (Key Performance Indicator)

·         Ekologis

c.       Step 3. Terima dan Rayakan Perbedaan dengan Terbuka

Terima bahwa pria dan wanita itu sama-sama manusia, namun berbeda. Sumber penderitaan wanita paling besar dalam hubungan adalah berharap pria bisa menghadapi wanita seperti wanita. Dan ketika hal ini terjadi, pria tidak merasa didukung.

Wanita berharap bisa ngobrol, cerita, curhat dan support dari teman bicaranya. Ini adalah cara wanita mendapatkan oksitosin. Sedangkan pria mendapatkan stimulasi testosterone dari tantangan karir dan pekerjaan.

Luka masa lalu bisa menyebabkan munculnya wounded masculine dan wounded feminine, yang egonya haus dan lapar. Misalnya, wanita yang masa kecilnya fatherless akan merasa sangat haus perhatian pada pasangannya sehingga suami merasa dituntut dan merasa tidak mampu membahagiakan istrinya. Sedangkan pria yang masa kecilnya dituntut untuk menutupi emosinya, akan menjadi pribadi yang tidak mampu mengendalikan dan menyelesaikan emosi sehingga dapat merugikan secara ekologis.

Tips membangun trust: “If you wanna be trusted, you need to give them first.”

1.    Sentuhan akan meningkatkan bonding dan menandakan bahwa kita juga sudah memberi kepercayaan pada teman bicara.

2.    Eye Contact yang tepat akan membuat kata-kata yang kita ucapkan lebih mudah diingat.

3.    Bersikap Terbuka dan tidak menutupi kelemahan akan mentrigger trust dan respect dari teman bicara.

4.    Minta saran/feedback

5.    Minta tolong

6.    Menambahkan saldo emosi. “It’s not about how impressive you are, but about what emotion you give”. Debit saldo emosi: mendengar, memperhatikan, mengerti, menerima, menghargai, mengagumi, memberi, menyayangi

Makasih banyak Coach Jose atas ilmu yang disampaikan. Baru tau loh kalau ternyata Jose Aditya adalah nama panggung, dari akronim Jodoh Sejati. Seperti yang sering diingatkan oleh Coach Jose di podcast nya, bahwa Jodoh Sejati itu bukan hanya mampu memiliki, namun harus mampu menerima, dan merawat.

Wednesday, February 1, 2023

Menikah Bukan Hanya Perkara Cinta

Pernikahan adalah sebuah perjanjian agung yang menggenapi setengah agama. Allah pun menetapkan manusia hidup berpasangan dan menjadikan pasangannya pakaian bagi satu sama lain. Menikah itu mudah. Hanya butuh calon pasangan, wali, mas kawin, dan saksi. Namun, memasuki gerbang pernikahan tanpa bekal agama maupun kesiapan emosional, nyatanya bisa semengerikan itu dampaknya.

Apabila dua jiwa yang kuat dan taat bersatu dalam pernikahan tentu akan sesuai dengan sunnatullah, akan lahir generasi yang menebarkan manfaat ke seluruh penjuru bumi. Bagaimana jika salah satu jiwanya masih rapuh? Tak masalah, jika mendapat pasangan dengan jiwa yang kuat. Yang bisa bantu menguatkan jiwa pasangannya, menyembuhkan luka di jiwa pasangannya, dan saling memberi energi positif bagi satu sama lain. Namun, apa yang terjadi jika baik suami maupun istri memiliki jiwa yang rapuh ? Perjalanan pernikahan akan jauh lebih menantang bagi keduanya. Jika Allah menghendaki, mudah saja bagi-Nya menjadikan kedua jiwa ini obat bagi satu sama lain. Yang satu menyembuhkan luka jiwa pasangannya, begitu pula sebaliknya. Namun, jika Allah berkehendak sebaliknya pun mungkin saja. Kedua jiwa rapuh ini saling menjadi racun bagi pasangannya. Energi negatif terpancar di setiap sudut rumah tangga. Akibatnya, sulit bagi mereka untuk menghasilkan generasi yang sesuai sunnatullah jika terus dipaksakan. Mungkin inilah hikmah mengapa Allah menjadikan perceraian bukan suatu hal yang haram, meskipun tentu dibenci oleh-Nya.

Tak ada yang perlu disesali dalam hidup. Allah jadikan setiap pertemuan maupun perpisahan untuk menjadi pelajaran. Bukan orangnya yang salah, atau waktu dan tempatnya yang kurang tepat, melainkan semua sudah diatur sedemikian detil oleh-Nya, sebagai sarana ujian agar kita menjadi hamba yang meningkat keimanannya.

Wednesday, November 16, 2022

MENGENALI TUBUH YANG MEREKAM LUKA BATIN

 "Menyembuhkan pengalaman masa kecil kita bukan berarti menyalahkan orangtua. Kitalah yang bertanggungjawab atas penyembuhan diri kita". Itulah secuplik kalimat yang ditayangkan di Webinar dalam rangka Anniversary ke-10 School of Parenting


Webinar diadakan selama 3 hari, yaitu pada tanggal 10, 11, dan 12 November 2022. Berikut sedikit sharing ilmu yang saya peroleh di hari pertama dengan tema "Mengenali Tubuh yang Merekam Luka Batin". 

Sesi dr. Yudhi Gejali

Bagaimana proses luka terbentuk? Luka terbentuk karena ada suatu kejadian traumatis yang tidak terselesaikan/belum melewati fase-fase yang seharusnya secara utuh/complete. Seharusnya ada beberapa fase yang harus dilewati saat menghadapi kejadian traumatis, yang setiap fasenya berhubungan dengan unsur tertentu sbb:

  1. Fase keterkejutan saat menghadapi kejadian tersebut (Shock/Freeze). Elemen: logam
  2. Fase orientasi dalam mengukur kemampuan diri/kalkulasi risiko sebelum bertindak dalam merespon kejadian. Elemen: api
  3. Fase tindakan/respon atas kejadian tersebut, untuk mencapai tujuan (goal) yang diinginkan. Elemen: kayu
  4. Fase penerimaan (completion) atas kejadian traumatis tersebut, kemudian menjadi pengalaman yang terintegrasi di dalam diri kita. Organ: jantung. 

1 kejadian traumatis menimbulkan 1 luka dalam diri seseorang, yang apabila bisa sampai ke fase penerimaan dengan baik akan menambah kebijaksanaan (wisdom), namun jika tidak selesai/stuck di salah satu fase maka akan menimbulkan penyakit (fisik maupun mental).

Emosi apa saja yang menimbulkan frekuensi kurang baik untuk kesehatan kita?

  •          Emosi yang terlalu kuat (serangan jantung)
  • .       Emosi yang tidak kuat tapi terus menerus (kanker payudara)
  • .       Emosi yang terjadi beberapa kali selama hidup tapi menimbulkan trauma

Tubuh kita terdiri dari banyak organ yang memiliki intelegensi masing-masing. Mereka merekam memori hidup kita. Setidaknya ada 5 organ utama yang harus kita perhatikan:

  1. Ginjal : motivasi, kekhawatiran
  2.  Liver: kemarahan
  3. Jantung: semangat, cinta kasih, energi besar
  4. Lambung : overthinking
  5.  Paru-paru

Prinsip kesehatan holistik adalah sehat yang mencakup pikiran, jiwa, dan raga (mind, body and soul). Frekuensi yang terpancar dari jiwa dan pikiran kita akan mempengaruhi vitalitas organ. Jika salah satu organ bermasalah, bisa jadi itu merupakan cara tubuh untuk berkomunikasi bahwa ada yang salah dengan frekuensi jiwa dan pikiran kita. Bagaimana cara agar lebih peka mendengar sinyal-sinyal yang dikomunikasikan oleh organ kita?

1.       Kenali lokasi dan fungsi organ kita terutama kelima organ penting.

2.       Konsentrasi dan rasakan denyut jantung, nafas dan aliran darah kita.

3.       Sapa dan ucapkan terima kasih atas kerja keras organ kita selama ini (memancarkan frekuensi cinta kasih)

4.       Semakin lama berlatih akan semakin peka emosi yang tertahan dan mengacaukan fungsi organ kita.

 

Sesi dr. Yovi Yoanita

Saat terjadi peristiwa traumatis, bagian otak yang berperan di alam bawah sadar (amygdala) akan menyala dan memunculkan fight or flight response (freeze). Jika terjadi pada hewan, biasanya hewan tersebut seperti pura-pura mati.

Tiap orang punya belief system (mindset) yang telah tertanam sepanjang hidupnya, hingga masuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi epigenetik. Orang sering mengira sebagai penyakit turunan, padahal merupakan alam bawah sadar yang terprogram turun menurun.

Mindset yang tertanam ini akan mempengaruhi persepsi/sudut pandang dalam melihat suatu kejadian. Persepsi ini akan mempengaruhi tindakan yang diambil dalam merespon suatu kejadian. Jika kejadian yang dialami berbeda dengan belief system yang dianut, maka pikiran (amygdala) akan menyalakan alarm emosi dan feeling. Jika emosi dan feeling ini terus menerus ditekan dengan harapan agar “sabar dan ikhlas”, maka akan tersimpan dan menumpuk sehingga timbul penyakit fisik.

Bagaimana cara mengatasi emosi yang muncul terlalu intens?

  1. Netralkan dengan mengubah sudut pandang. Hilangkan judgement right or wrong, hapus mental victim (apa yang terjadi kepada saya sekarang adalah akumulasi pilihan-pilihan hidup saya sebelumnya)
  2. Lakukan clearing statement (destroy and cancel) terhadap belief system yang tidak memberdayakan (sadari diri kita yang sekarang, lepaskan dari kehidupan masa lalu, ambil pilihan dengan sadar)

Kedua tindakan di atas terdengar sederhana tetapi cukup berat dilakukan tanpa bantuan ahli. Dapat dibantu dengan beberapa metode, salah satunya hypnotherapy dan metode anchor. Lebih sulit lagi jika orang tersebut belum lepas dari mental victim dan memiliki mirroring brain (mengambil emosi orang lain yang memiliki trauma, padahal yang bersangkutan sebenarnya tidak mengalami trauma).

Metode anchor bisa coba dilakukan sendiri untuk mengubah mindset, dimulai dari “mau jadi seperti apa diriku sekarang? Mau diarahkan kemana diriku sekarang?”

Proses trauma healing dan mengubah mindset yang tidak memberdayakan bisa berjalan beriringan. Sadari pilihan yang diambil oleh pikiran kita, jangan dikendalikan oleh emosi. Otak bisa mengizinkan suatu kondisi terjadi/pilihan diambil jika ada keuntungan yang diterima oleh diri kita.