Adakah disini yang sampai sekarang masih kesulitan mengenali emosi “marah” dalam diri kita? Mungkinkah ada orang yang benar-benar terbebas dari rasa marah seumur hidupnya? Yap. Tentu semua orang pernah merasa “tidak suka” yang ujungnya bisa menjadi “benci” terhadap sesuatu. Itulah bentuk kemarahan paling kecil dalam hati yang mungkin secara sengaja atau tidak kita abaikan. Bagaimana bila pengabaian ini berlangsung secara terus menerus, bertahun-tahun, hingga kita menyimpulkan bahwa kita tidak pernah marah? Please read my previous article and you’ll find the answer.
Begitu pula jika sebaliknya,
kemarahan tak terkendali tentu akan merugikan diri kita sendiri maupun menimbulkan trauma bagi orang di
sekitar kita. Anak-anak yang sering dimarahi
orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan mengekspresikan emosinya
secara sehat juga di kemudian hari. So, sangat penting bagi orangtua untuk bisa
menyelesaikan emosi di masa lalu agar tidak menjadi pola yang diwariskan turun
temurun.
Belief yang Salah
Sebelum loncat ke solusi, aku mau coba identifikasi dulu bagaimana seseorang menafikan emosi marah.
Sebagai orang Indonesia, aku sangat sering mendapat nasihat semacam “sabar,
jangan marah”; “yang waras ngalah”; atau “konflik itu tidak baik”. Hal ini
lambat laun menancap di alam bawah sadarku untuk selalu mengusir perasaan “tidak
suka” agar tidak mewujud menjadi perdebatan atau konflik dengan orang lain.
Padahal Allah SWT menciptakan
emosi marah tentu bukan tanpa manfaat. Rasa marah secara naluri/fitrah akan
muncul saat kita merasakan ketidakadilan sehingga nantinya kita tergerak untuk
memperbaiki. Bahkan selemah lemahnya iman adalah mengingkari kemungkaran dengan hati, jika belum mampu menggunakan tangan atau lisannya. Artinya, konflik bukanlah hal yang harus dihindari. Konflik adalah
sesuatu yang dapat kita kelola untuk menjadi konflik yang sehat dan membangun. Menghindari konflik yang terjadi saat ini bukan berarti konflik telah selesai, namun justru berpotensi menimbulkan konflik yang lebih besar di kemudian hari.
Tidak Tahu Cara Mengekspresikan Emosi yang Sehat
Emosi marah yang diekspresikan
secara tak terkendali biasanya muncul karena kurangnya skill mengelola emosi. Berlatih untuk self distance atau teknik disosiasi akan sangat membantu kita
melepaskan emosi marah, alih-alih menahannya. Teknik ini dapat kita latih
dengan memisahkan diri kita dari emosi “negatif” lalu menjadi observer dari perilaku kita sendiri. Bagi
Muslim, sebaiknya me-lafadz-kan ta’awudz terlebih dahulu. Setelah itu, ubah
posisi dengan mundur 3 langkah atau duduk dan lepaskan emosi marah di tempat
semula. Pastikan diri kita telah mengakui dan menerima rasa marah tersebut,
syukuri dan sadari alasan kita marah lalu minta ia pergi dengan lembut. Di posisi baru tersebut, kita mengamati
situasi lalu menasihati diri kita sendiri untuk memilih respon yang tepat tanpa terbawa emosi. Insya Allah yang tersisa adalah kekuatan untuk menyelesaikan konflik dengan bijak.
Bisa juga dengan teknik anchor atau memanggil emosi yang lebih memberdayakan seperti emosi percaya diri, bahagia, tenang atau bersemangat. Teknik ini dapat kita kuasai dengan menciptakan tombol percaya diri, tombol semangat, atau tombol bahagia sesuai emosi yang kita inginkan. Begini langkah-langkah yang disampaikan Bu Okina Fitriani dalam buku Enlightening Parenting:
- Tentukan satu titik yang ingin kita jadikan tombol emosi tertentu, lalu tekan titik tersebut
- Mengingat emosi intens yang pernah kita alami sesuai kebutuhan sampai benar-benar terasa nyata
- Menetralkan emosi
- Berlatih dengan menekan tombol dan merasakan lagi emosi yang diinginkan.
Yuk, kita latih diri untuk lebih
memahami emosi yang muncul dari dalam diri. Emosi marah itu valid kok, hanya
perlu kita kuasai teknik-teknik untuk mengontrolnya agar terasa lebih memberdayakan, bahkan menjadikannya kekuatan diri kita. Artikel Pak Prasetya M Brata ini sangat bagus menggambarkan bagaimana memberdayakan emosi "negatif" berupa rasa malas yang beliau namai "Sang Berat" untuk membiasakan diri sholat Dhuha. Di samping itu, penting juga
untuk menguasai skill manajemen konflik. Karena jika memang diperlukan,
berkonflik dengan orang lain atau bahkan dengan diri kita sendiri mungkin akan menjadi salah satu catatan amal kebaikan kita.
No comments:
Post a Comment