Friday, October 10, 2014

JHB-SG-Penang-KL-Melaka (DAY 0)

Bertolak ke JHB
Berbekal tas punggung pinjaman dari adek kos, aku berhasil menggotong semua keperluanku selama 12 hari sebagai makhluk nomaden. Mulai dari baju, mukena, kosmetik, handuk, alat mandi, payung, mie gelas, kentang instan, jas hujan, dan botol aqua (ini super penting), membuat isi tasku menggembung layaknya gunung mau meletus.
Setelah memenuhi perut sekenyang mungkin di RM. Padang Ganti Namo, tak lupa membawa bekal nasi padang 1 bungkus per orang (serius), kami berkumpul di kos saya  dan Nurul untuk menunggu taksi yang akan mengantar kami ke airport. Tepat pukul 13.00 pesawat kami terbang meninggalkan Jogja. Tak sampai dua jam, kami sudah menginjakkan kaki di Bandara Senai, Johor Bahru, kota yang menjadi batas antara Malaysia dan Singapura. Campur aduk perasaanku saat itu, antara cemas dan excited bercampur sampai terasa gatal di kepala (loh). Nasib kami 12 hari ini terlihat buram, entah kemana angin membawa kami, apakah semua yang tertulis di itinerary (selanjutnya akan ditulis itin saja demi menghemat energi) akan berjalan mulus? Masih samar-samar jawabnya.
Melintasi Batas
Hari itu pasporku, Nurul, dan Metha akhirnya tidak lagi polos. Oh jadi seperti ini ya rasanya melintasi batas negara. Garis tegas hitam di legenda peta yang memisahkan batas antara Indonesia dan Malaysia kami lewati dengan menjawab pertanyaan simpel, “hendak bekerja atau belajar?” yang selalu kami jawab singkat, “holiday”. Oke, mungkin mereka mengira kami akan bekerja sebagai TKW.
Persoalan besar hari itu adalah, dimana kami akan menginap? Dulu  sebenarnya kami berencana menginap di sekitar airport malam itu, lalu bertolak ke Singapura pagi hari berikutnya. Tapiii kami berubah pikiran setelah tahu bahwa kami bisa mendapat transport gratis ke Singapura jika berangkat ke sana pada tanggal yang sama dengan penerbangan kami. Ya, penumpang Air Asia bisa menumpang bus Causeway Link yang akan berangkat dari bandara Senai sampai terminal Kranji atau Queenstreet di Singapura  secara cuma cuma. Kesan pertama naik bus CW ini cukup menyenangkan, pak cik kernet yang kukenal saat tanya-tanya tentang bus ini di counter CW bandara Senai juga sangat baik, bahkan ia menunjukkan jalan saat pindah bus CW lain di terminal JB Sentral. Ya, jadi kami sempat beberapa kali ganti bus CW, termasuk saat di Woodlands tanpa perlu bayar sepeserpun asal tiket tidak hilang.

melintas negeri bersama bus Causeway Link
                Megahnya imigrasi Singapura di Woodlands Checkpoint terasa asing bagiku. Lantai keramik putih, ruangan luas terang benderang, pegawai imigrasi di sana sini meneliti paspor dengan seksama lalu memindai sidik jari para pendatang.  Dengan menyeberang dari suatu negara ke negara lain lewat perjalanan darat, kita bisa mengamati bagaimana roda-roda suatu negara berputar, bagaimana pemikiran manusianya. Negara maju atau miskin. Efisien atau molor. Korup atau tertib. Perbatasan adalah jendela untuk mengintip sebuah negara, titik kecil yang memberi ilustrasi gambar besar di baliknya. Di Woodlands, semua orang tampak dikejar makhluk tak kasatmata bernama waktu. Tak ada satupun yang berjalan atau mengobrol santai. Hal yang memberiku gambaran tentang betapa mahalnya waktu di negara  yang sebentar lagi akan terhampar di hadapanku.

Menjawab Persoalan
                Tinggal dimana malam ini? Pertanyaan yang sama masih menghantui kami setibanya kami di Kranji Station. Kenapa turun di stasiun Kranji? karena pikir kami biar bisa naik MRT ke Bugis-nya. Sebenarnya bisa juga turun di terminal Queenstreet. Jalan kaki dari Queenstreet ke Bugis ternyata bisa ditempuh sekitar 10 menitan.
                 Dari Kranji, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Bugis setelah membeli Standard Ticket untuk naik MRT. Awalnya kami sepakat untuk membeli EZ Link Card untuk keperluan transport kami dengan MRT selama di Spore, tapi karena saat itu sudah cukup malam (sekitar pukul 8 p.m waktu setempat), konter EZ Link di stasiun Kranji sudah tutup (atau habis?entahlah).
              MRT di Spore sangat bersih, tidak bau, dan di jendela-jendelanya ada beberapa iklan produk maupun iklan masyarakat yang tertempel dengan rapih. Sebelum masuk ke dalam MRT, orang-orang berdiri teratur di tanda yang tersedia dan mendahulukan penumpang di dalam yang akan keluar. Kerapian dan kepatuhan orang Singapura memang mengagumkan, paling tidak buatku.
                Mengapa kami menuju ke Bugis? Itu karena di daerah Bugis ada satu masjid yang cukup terkenal yaitu masjid Sultan. Rencananya kami akan sholat di masjid Sultan lalu ke McD untuk menumpang tidur. Hanya itu yang terlintas di kepala kami saat itu. Saat di MRT kami sempat mengobrol dengan seorang ibu muda dengan bayi bule yang super imut saat di MRT, ia memberi kami arahan untuk mencapai masjid Sultan dari stasiun Bugis.
                Sampai Bugis, kami membeli dulu kartu EZ Link seharga 12 dollar dengan total isi 8 dollar untuk masing-masing kartu. Terjadilah kebodohan pertama kami dimana EZ Link yang kami beli ternyata berjumlah 5, padahal kami kan cuma butuh 4, hiks. Yap, hari itu kami merugi 12 dollar. Untuk menghibur diri, rencananya sisa kartu tersebut akan dijual di kaskus saat pulang nanti.
Dengan bermodalkan petunjuk dari ibu tadi, kami berjalan keluar stasiun ke arah Rafless Hospital. Untung kami menemukan peta daerah Bugis di stasiun tersebut dan ternyata masjid Sultan tidak begitu jauh dari situ. Kami putuskan untuk mengabaikan rintihan perut yang sejak tadi merindukan bekal nasi rendang lezat dari Indonesia. Toh paling hanya 5 menitan jalan kaki ini.
Perkiraan kami salah besar ternyata saudara-saudara.  Hampir 15 menit berjalan  menyusuri deretan pub dan tempat nongkrong, tenaga kami makin menipis, air minum sudah dibuang saat di bandara Adisucipto tadi, dan parahnya lagi, sepertinya kami salah jalan. Rupanya kami berjalan terlalu jauh dari tempat dimana kami seharusnya membelok kiri. Senang tak terkira saat akhirnya kami menemukan masjid tersebut. Masjidnya sangat bersih dan nyaman. Sayang kami tak bisa lama-lama di situ karena masjid akan segera ditutup. Dari keterangan mas merbot penjaga masjid, ternyata McD di dekat situ tidak buka 24 jam. Menceloslah kami. Tak ada tempat tinggal malam itu. Dan perut kami semakin menjerit.
image
muka-muka kasian di depan Masjid Sultan, Bugis. Spore
***
Kami putuskan untuk melihat-lihat sekeliling masjid. Mana tahu ada tempat yang buka 24 jam. Ada sih sebenarnya, seven-eleven. Tapi tak ada tempat di situ untuk bisa leluasa makan nasi padang, hiks. Sempat tergoda untuk makan di seonggok sofa yang kami temukan di ujung jalan, tapi kami ternyata tidak siap untuk makan di situ dengan puluhan pasang mata menatap aneh.
Akhirnya kami menyerah dengan nasi padang dan memilih makan di salah satu warung yang terlihat paling bersahabat. Namanya ‘Kampong Glam Cafe’. Aku akhirnya mengenali jalanan ini sebagai tempat yang disebut Kampong Glam di majalah yang kubaca di pesawat tadi. Jalan yang penuh dengan deretan tempat makan dan nongkrong paling hip se-Singapura yang hanya buka saat malam.
Kafe yang kami pilih ini tidak terlihat seperti kafe bagiku. Cenderung seperti warung pinggir jalan yang menyediakan kursi-kursi dan meja di trotoar depan warungnya. Kafe ini menjual aneka masakan melayu dengan harga yang masih reasonable untuk ukuran s’pore.
Kami duduk di area yang cukup terang dan terletak di tengah-tengah. Entah dandanan kami yang terlalu aneh atau bagaimana, karyawan-karyawan di situ sangat ramah kepada kami. Mereka kebanyakan orang Melayu dan bahkan ada orang Bali dan orang Indramayu. Mereka semua menanyakan hal yang sama, “kenapa kami di situ malam-malam begini” dan “apakah malam ini ada tempat tinggal”.
image
kekenyangan makan di Kampong Glam Cafe
Kami menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cerita karangan bahwa kami sebenarnya sedang menunggu teman tapi entah kenapa teman tersebut tidak datang juga dan parahnya tidak bisa dihubungi. Ampuni kelicikan kami ya Allah :(
Semua orang begitu peduli kepada kami, bahkan ada pengunjung yang tidak ingin ketahuan oleh kami memberikan dua botol air mineral lewat karyawan kafe yang ramah tadi. Atas petunjuk bapak pemilik kafe tersebut kami mencoba ke hotel-hotel di dekat situ untuk memesan kamar tapi ternyata semua hotel sudah penuh. Jadilah kami tinggal di meja tersebut sampai kafe tutup jam 3 pagi, lalu tetap menunggu di situ sampai masjid Sultan buka. Bukan ide yang menyenangkan tentunya menghabiskan malam dengan terus terjaga sementara pundak dan kaki kami terasa lelah. Ditambah diam-diam sebenarnya kami takut juga tinggal berempat di situ dengan lampu kafe yang dimatikan.  Yang sedikit melegakan adalah para karyawan yang baik tadi banyak yang tidur di lantai dua atas kafe.
Tongsis dan payung tergenggam erat sementara kami berusaha membuat mata tetap terjaga dengan berbagai kesibukan seperti Truth or Dare dan bermain ABCD nama-nama obat (freak haha). Kami sadar bahwa sedari tadi masih ada dua pengunjung kafe yang masih bertahan di mejanya yang terletak agak jauh dari kami. Saat itu kami memikirkan dua opsi kemungkinan, antara mereka orang baik yang tadi memberi kami air mineral, atau justru orang tak baik yang berniat mencelakakan kami ketika orang-orang sudah terlelap.
Jantungku berdegup kencang saat salah satu pengunjung tadi berjalan ke arah kami. Tak bisa kulihat jelas wajahnya, yang jelas ia terlihat seperti mengecek keberadaan kami. Lalu ia memanggil temannya, dan…..benar-benar menuju meja kami. Aaakk. Aku sudah ancang-ancang untuk teriak dan mengayunkan payung ketika orang itu duduk di kursi belakang kami dan menyapa ramah. “kamu orang indonesia ya?” sapanya dengan logat melayu yang kental. Singkat kata, mereka sama sekali tidak berniat jahat, hanya menemani kami ngobrol sampai masjid buka dan bahkan membelikan dua botol minuman Yeoh’s dan sekaleng Mister Potato. Oh ya, namanya Mohammad Shafi’i, polisi, umur 22 tahun, gundul ganteng, bulu matanya lentik parah  (penting). Dan yang satu lagi namanya Sheik Mohammed, kerja di airport, umur 23 tahun, melayu tapi mirip orang india. Seperti yang sudah kuduga, mereka pasti ada niat untuk memodusi salah satu dari kami, dan benar saja mereka minta FB (anis yang jadi tumbal haha), memberikan nomor telpon dan siap dihubungi kalau kami perlu bantuan. Malam yang melelahkan *sigh*
(Bersambung)

JHB-SG-Penang-KL-Melaka (DAY MINUS BANYAK)

Ps: Ceritanya pengen bikin seri dokumentasi perjalanan yang dilakukan oleh saya (Rahmi), Nurul, Annishfia, dan Metha pada tanggal 6-17 Agustus 2014 yang lalu. Kalau berminat nyimak, monggo :D
Berkunjung ke luar negeri adalah mimpi yang bagiku entah kapan bakal kesampaian. Almarhumah ibuku dulu jarang memberikanku izin untuk bepergian jauh, aku tahu beliau selalu mengkhawatirkan kondisi fisikku yang di matanya sangat lemah ini. Tapi akhirnya di penghujung statusku sebagai mahasiswa akhirnya kesampaian juga keinginan untuk travelling ke luar Indonesia. Yeayyyyy! Seandainya ibuku masih ada pasti juga dibolehin kok, yakin. Ehehehe.
Berkat kegigihan kawan-kawanku nongkrongin website Air Asia siang malam, berhasil juga kami memperoleh tiket promo Jogja-Johor Bahru, walaupun sebenarnya bagiku tidak murah juga sih hehe. Kesulitan pertama adalah tidak ada satupun dari kami yang memiliki Klik BCA, hingga proses booking tertunda berhari-hari. Akibatnya, harga tiket makin naik hingga 200 ribuan dari target awal kami. Lelah menunda lebih lama lagi, tiket pergi-pulang (Jogja-JHB dan JHB-Jogja) untuk empat orang dengan mantap kami beli tepat sebulan sebelum musim ujian komprehensif.
alhamdulillah dapet juga tiket setelah berhari hari tarik ulur
                Sebagai kaum yang tidak mau merugi, kami membeli tiket dengan keberangkatan tanggal 6 Agustus dan kepulangan tanggal 17 Agustus. Harga tiket di kedua tanggal tersebut adalah yang paling ekonomis di antara hari-hari lain di bulan agustus ini. Pertimbangan lainnya adalah agar perjalanan kami tidak terlalu rusuh dan terburu waktu. Tapi tetap saja,  dua belas hari adalah waktu yang menurutku sangat lama. Kondisi keuangan yang minim, serta pengalaman yang nol dalam dunia per-backpacking-an menjadi beberapa alasan kekhawatiranku.
                Bulan demi bulan selama menanti tanggal 6 Agustus, kami lalui dengan berdoa memohon rezeki runtuh dari langit. Bukannya sibuk belajar, kami justru menyibukkan diri dengan macam-macam ikhtiar demi mengais rupiah. Mulai dari berjualan nasi saat registrasi mahasiswa baru, berjualan DVD konser artis korea, jualan jilbab, kerja serabutan dari menulis artikel sampai mencari gambar untuk content blog.
                Ujian demi ujian rasanya ingin segera kami libas karena adanya trip seru yang menanti kami. Berbagai persiapan dari membuat paspor, menyusun rencana perjalanan, memilih hostel yang cocok, anggaran kasar yang perlu kami siapkan, tukar uang, sampai membeli remeh temeh yang kami harap bisa menghemat pengeluaran dollar maupun ringgit kami nanti. I admit that I didn’t have any significant contribution for those, hehehe. Teman-temanku memang super :*
                Tidak sabar rasanya untuk bisa segera merasakan pengalaman baru yang jelas akan menguji fisik dan mental kami di negeri orang. Boleh dikata tujuan kami awalnya adalah liburan ke luar negeri dengan biaya serendah mungkin. Lebih dari itu, aku berharap agar perjalanan kami nantinya akan menjadi sebuah proses pembelajaran, bukan sekedar mengunjungi tempat, hanya demi mengatakan “We have been there. We have done it.
(Bersambung)

Monday, August 18, 2014

23

Today is one of my twenty something birthday.
I wish me myself so many luck and joy.
I think 23 is not a little number.
Ready or not, that number disturbs my slumber. 
May be any terrible or miserable path I will gain in my life soon or later.
Thinking about that makes my life uneasier.

But this peachy flower makes my head and chin up. I feel a little lighter.
You were the reason why I smiled this morning, thank you little sister.
:)

Tuesday, August 5, 2014

5 Agustus 2014

Selamat sekarang sudah 23 tahun. Semoga selalu diberi kesehatan, keberkahan, kelimpahan rezeki oleh Allah SWT. Semoga semakin meningkat keimanannya, semakin rajin ibadahnya, semakin dewasa dalam menyikapi hidup. Semoga selalu jadi laki-laki yang dibanggakan oleh ayah, mama, serta kedua adek kamu, dan semoga semakin sayang sama aku.
Maaf, aku selalu tidak ada di sisi kamu saat kamu ulang tahun. Aku cuma bisa ngirim doa dan ini dari jogja.



Semoga di tahun-tahun yang akan datang dan seterusnya kita bisa bersama di hari ulang tahun kamu ya.
Aku sayang kamu dhika, 
Selamat ulang tahun sayang :)

Wednesday, July 9, 2014

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka

QS 13:11

Mungkin itu jawaban dari Sang Pencipta yang rasanya sesuai untuk kita yang bertanya-tanya mengenai siapa pemimpin yang paling pantas saat ini. Sepertinya kok tidak mungkin ada satu figur yang bisa membereskan semua permasalahan bangsa. Karena hal ini adalah tanggung jawab kolektif semua orang, hanya seluruh penghuni negara ini yang bisa mengubah nasib bangsa ini, bukan masalah si A atau si B yang jadi presiden kita.

Percayalah, kedua kandidat sama sama punya niat tulus untuk kemajuan Indonesia, meski mungkin keduanya bukan sosok sempurna. Sekarang yang bisa dilakukan hanya berdoa agar siapapun yang memenangkan suara rakyat Indonesia hari ini akan bisa memimpin kita semua ke arah yang lebih baik.

*Tidak bermaksud hipokrit ya sama tulisan ini, tapi nasib saya jumat sabtu nanti juga cuma bisa diubah oleh usaha superkeras e masalahnya (tau deh 5 tahun ini ngapain aja). Nggak pulang nyoblos kan akhirnya, form A 5 pun belum ngurus...huhuhu >.<

Update: berhasil nyoblos di TPS 61 Sinduadi, Sleman dengan modal selembar fotokopian KTP doang yeyeye~ 


Friday, June 13, 2014

Dear You, My Growing Up Partner

I always admire you as a whole package man. You're brilliant, creative, funny, courageous, big hearted, so irresistible to be loved. What I've known is that you may not be the most understandable person for a simple minded people like me. Sometimes you think as way much complicated than I. It makes me feel like a very very bad girlfriend :(

Just in case you don't know or you don't remember, what I only want is being considered for every single big decision you made in your life. I hate thinking about the painful feeling you'd try to hold alone.You may think if I would judge you or anything, but you know, I never do. And I don't want to force you to believe me.

Finally, the matter is about that much love I have for you. How hard it may be for me to understand, don't be bored to explain to me. And about how questionable path you jump, just be sure that I'll always be the best supporter you can rely on. That's what a spouse supposed to do in my opinion, to support and cherish each other.

Hmmmmmhhh..
Being grown up is not as easy as it seems...

Monday, June 9, 2014

Pharmaceutical Care di Kehidupan Nyata

Mumpung besok adalah jadwal ujian Pelayanan Farmasi untuk ke-3 kalinya (iya kamu nggak salah baca, ini ujian KETIGA), mau nggak mau jadi memutar kembali ingatan saya bahwa ternyata bekerja sebagai farmasis di bidang pelayanan tidak semudah yang dipikirkan. Singkatnya, apa yang akan saya tulis kali ini cuma berdasar apa yang saya alami pas praktek kerja selama 1,5 bulan kemarin di Puskesmas dan Apotek. 

Di Puskesmas, meski resepnya SANGAT banyak (tembus 200an per 4 jam), tapi bisa dibilang lebih mudah dijalani daripada bekerja di apotek ramai macam kosud. Dengan obat yang jauh lebih sedikit macamnya, pasien yang hampir setipe, seringnya tidak terlalu banyak menuntut selain hanya butuh didengarkan, dan terhitung sangat mudah untuk diberikan masukan.

Kalau kerja di apotek gimana rasanya? Jelas capek banget, sama sekali nggak menyangka kalau apotek kecil tempat saya PKPA itu ramainya luar biasa. Anda harus bisa tahu lokasi-lokasi obat, kegunaan obat, bahkan harga obat harus perlahan dihafal karena komputer input hanya dua. cuma satu kata yang menggambarkan hari pertama saya bekerja: LUARBIASA. For your information, saat pertama berada ke ruang racik yang berisi ribuan (?) item obat itu kepala rasanya mau pecah, teman saya bahkan bilang kalau saya benar-benar pucat di hari pertama itu. Alhamdulillah sih nggak sampai pingsan ya -_-

Bekerja di pelayanan tidak semudah yang saya bayangkan. Tapi, ada hal yang mungkin gak akan saya alami tanpa saya pkpa di apotek dan puskesmas, hal-hal yang cuma ada di kuliah atau kejadian yang hanya ada di TV, ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata.

1. Saat di puskesmas ada seorang kakek berumur 80 an tahun yang berobat sendiri, bahkan kaki kakek itu sudah nggak kuat lagi jalan ke meja penyerahan obat. Saya hampiri dan ajak ngobrol, ternyata kakek itu hidup sebatang kara, nggak punya istri apalagi anak.  T.T

2.  Di puskesmas juga, pas lagi nyebar kuesioner, salah satu ibu-ibu responden bercerita ke saya hampir 1 jam (padahal puskesmas buka cuma 4 jam) tentang pemecatan massal yang menimpa dirinya dan suaminya dari pabrik pembuat pesawat satu satunya di Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun berlalu, ibu tersebut dan kawan-kawannya masih saja gigih memperjuangkan haknya yang belum dipenuhi perusahaan. Entah kenapa waktu 1 jam itu nggak berasa.

3. Saat terpaksa harus menginterupsi curhatan panjang seorang bapak tentang rasa sayangnya kepada sang putera yang sakit jiwa sejak SD hingga sekarang sudah 30 tahun lebih usianya (salut, tapi mau gak mau dipotong ceritanya krn ga enak sama antrian panjang di belakangnya huhu)

4. Saat ada mas mas gondrong seumuran saya berobat ke puskesmas yang mencoba mengkritisi penggunaan kata 'saya' sebagai kata ganti (semoga cepat sembuh ya mas haha)

5. Saat ada seorang ibu muda datang ke apotek meminta obat untuk tukang kebunnya yang mengeluh kalau alat kelaminnya bernanah (salah nggak kalau jadi mikir aneh aneh?.__.)

6. Saat ada seorang pria sepuh bergelar profesor datang ke apotek dan memberi kuliah, menanyakan obat dan mulai membicarakan ikatan kimia dan reseptor.

7. Saat muncul dosen muda super ganteng seperti di sinetron dan meminta rekomendasi saya obat untuk memperlancar ASI (padahal ga ngerti apa apa haha)

8. Saat harus menghadapi seorang dosen yang cukup disegani oleh karyawan kosud datang membeli obat ke apotek hampir 3x tiap minggu, selalu membuat saya merasa bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan - pertanyaan ngetes beliau.

9. Saat datang seorang kakek ke apotek, meminta barang bernama 'sedot ingus' yang ternyata adalah vicks inhaler -___-

10. Saat orang-orang pergi ke apotek layaknya berbelanja di toko permen, bahkan tren yang muncul sekarang kebanyakan orang membeli obat bukan karena kebutuhan tetapi untuk menghabiskan anggaran belanja.

11. Saat seorang ibu mengeluhkan penyakitnya yang beragam dan saya hanya bisa mendengarkan lalu berujar tulus 'Semoga lekas sembuh ya, Bu' maaf gak bisa konseling, ilmunya kurang :(

12. Saat datang seseorang membawa sebuah tablet putih tanpa bungkus apapa, hanya berkata itu untuk obat sendi, dan saya disuruh mencari itu obat apa diantara ribuan obat berbungkus dan berlabel di apotek zzz

Nyata kan? itu yang saya sebut LUAR BIASA, bahwa seorang apoteker tidak hanya harus menghafal kegunaan suatu obat, tapi juga harus mengetahui caranya bertindak saat muncul pasien dengan keinginan ataupun cerita yang LUAR BIASA.

Sunday, June 8, 2014

...bila memang benar kita adalah rangkaian kalimat, 

maka aku akan terus menulis.

Friday, June 6, 2014

Meet New Family!

Sebulan PKPA di Apotek Kosudgama itu PKPA yang nanggung menurut aku. Baru juga ngerasa deket sama orang2 kosud, tau tau udah perpisahan aja hiks. Memang sih di sini kami kerjanya bisa dibilang lebih lama daripada anak-anak yang PKPA di apotek lain. Sehari dibagi dua shift saja, yang mana kosud buka dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Tapi berhubung kondisi apotek yang ramainya parah, jadi nggak gitu kerasa deh 6,5 jam. Apalagi kerjanya bareng orang - orang yang nyantai dan gak pernah marah ke kami. Ternyata kerja di apotek menyenangkan juga lho. Ada semacam euforia gitu saat pasien mengucapkan terimakasih ke kita, hihi

Herannya, kenapa ya semua orang di kosud baiiik banget. Mau karyawan aslinya, sampai staf sales promotion yang hampir-hampir gabisa dibedain dari karyawan situ saking lamanya nongkrong di kosud, semuanyaah pokoknyah. Bahkan tiap hari di Kosud tuh adaa aja yang bawa makanan, nggak pernah kelaperan deh kita XD

Pakdhe yang sukanya muter youtube dari ceramah mama dedeh sampe campursari, yang pernah dibikin repot sama kesleboranku yang nggak sengaja bikin satu etalase obat terkunci dan mesti dibuka paksa huhu, yang di hari ultahnya kami semua kecipratan makan gratis (sehat selalu ya, Pakdhe!) Mbak Ulfah yang sibuuuk banget ngorder sesiangan, yang kalo pulang ke Ponorogo naik travel yang sama bareng aku. Mbak Rina yang suka nonton mas mas India di sinetron Mahabarata, yang kalo ngomong kencengg dan sering bikin ngakak. Mbak Tami dan Mbak Wiwit yang aku kira kembar awalnya (abis sama sama chubby imut gitu sih hihi), Mbak Lina yang demen nonton Meteor Garden sampe Man from Another Star. Mas Dwi sang AA ganteng nan selalu bisa diandalkan, yang kalo bikin playlist yutub suka random. Mbak Ami Seaquill yang suka minum Chrysanthemum (enak loh ternyata, walau sepintas mirip pipis kuda -_-). Mbak Rina Wellness yang hampir tiap hari ngajakin beli ayam geprek. Mbak Irma Natur E yang udah punya anak satu tapi centilnyaa ibarat anak remaja. 

Yang bikin salut juga tentunya adalah Ibu Susi yang dedikasinya luarbiasa buat apotek ini di usia beliau yang tidak muda lagi. Hebat banget loh Bu Susi ini, pagi sampai sore ngajar, pulang sebentar lalu stay di apotek sampai malam. Hampir tiap hari kaya gitu, padahal rumah beliau lumayan jauh dari kosud.

Terimakasih banyak keluarga besar apotek kosudgama yang telah berkenan menjadi keluarga kedua kami selama sebulan ini, semoga semuanya selalu sehat dan diberkahi Allah SWT, gonna miss you all :')

cuma tiga foto ini di kamera aku, gegara kehabisan batre :(



Wednesday, May 7, 2014

Terbius Tulus

Pertama kali dengar nama Tulus...Hah band model apa lagi nih? Entah kenapa yang terbayang di pikiran waktu itu adalah band - band beraliran Melayu semacam Kangen dan Merpati. -___-

Gara-gara dugaan tadi sempat nggak tertarik untuk cari tahu tentang solois pria yang bergenre pop-jazz ini. Eh, suatu saat ada seseorang yang menunjukkan kepada diriku sebuah video musik yang manis sekali berjudul "Teman Hidup" di yutub. Ternyata itu yang namanya Tulus, suaranya bagus. Hmmm...dugaan saya salah saudara saudara.

Cukup sampai di lagu itu yang kebetulan aku nggak seberapa suka, bahkan beberapa saat aku sempat lupa lagi sama Tulus. Akhirnya suatu saat lagi, teman seperjuangan di kosan, Ayu menulariku virus lagu-lagu Tulus lain yang dia tonton di yutub juga. Sekejap aja langsung ketagihan muter "Sewindu", "Jatuh Cinta", "Diorama", "Mengagumi dari Jauh", dan "Tuan Nona Kesepian". Ah Ayu sih nggak di Jogja, HOT banget tadi Tulus di Purnabudaya padahal haha.

Berbeda dengan solois pria lainnnya yang sering tidak bisa lepas dari stigma penyanyi lagu-lagu dengan aransemen dan lirik menyedihkan tipikal pengiring patah hati, Tulus punya nilai lebih selain suara yang menjual.  Musik catchy ditambah dengan lirik sederhana di setiap lagu adalah bekal utama Tulus menapaki jalan bermusiknya yang tampaknya bakal mulus.

Album barunya Gajah juga sayang jika dilewatkan. "Baru" adalah penggoda yang tepat menuju track list berikutnya. Lagu ini sukses membuat kita menganggukkan kepala dan menjentikkan jari sejak intro. Di konser yang barusan aku tonton, si Tulus bilang paling suka "Jangan Cintai Aku Apa Adanya" di antara lagu-lagu di album Gajah. Klise sih temanya, tapi romantisnya pas dan tanpa terdengar cheesy sama sekali.

Kalau favoritku jelas lagu andalannya, "Gajah" yang mempunyai amunisi lebih dari cukup untuk membuat leleh. Ya musiknya, ya liriknya. Tulus sebagai penulis lirik menurutku cukup jenius dalam menggunakan pilihan kalimat - kalimat metafora tapi tersampaikan maksudnya dengan lugas.

“Kita adalah sepasang sepatu. Selalu bersama tak bisa bersatu.”

Perumpamaan yang sangat manis untuk kisah cinta yang begitu tragis.

"Harusnya sisa masaku buat indah menukar sejarah tapi kita dalam diorama"

Lalu, kata Tulus lagi...

"Angkat penamu tulis, bila gemar menulis. Buktikan sekarang."

 Siap!

Sunday, May 4, 2014

An Excuse of a Girlfriend Who Always Make Her Boyfriend Waiting Too Long

don't you have any idea how precious time for me when I could see you,
even just the last day we've met,
and we'll only go out for breakfast.

it may sound ridiculous to you, but yeah I admit that I spend plenty of time just to look at the mirror.
I don't count it, but it must be thousand times.
just to fit my appearance,
is there any flaw on my face?
is there any mismatch colors in my whole outfit?
do my lips look so pale? or instead, so over colored?
is my veil neat enough? because if it is not I will re-iron it hundred times.
may be I just always want to look nice in front of you,
although it usually ends with a so-so appearance, hehe.

let me tell you, that it is not so me actually.
ask anyone who knows me,
they'll tell you, I used to wear uncluttered and sometimes improper outfit when it comes to go out with them,
I'll be ready for a second, after grabbing the nearest outwear I could reach, then wearing a black veil whatever my clothes color.
that's the lazy me.

will you believe if I say you're that special?

in this post, I want to sincerely apologize and also deeply thank to you who always patiently wait for and bring joy to me.

:)
Jogja, May 4th 2014
listening The Velvet Underground-I'll be Your Mirror

Kitchn!

Nggak kerasa hampir tiga minggu aja nggak bisa lepas dari kitchen decor demi mencari sesuap nasi. Satu komentar, ternyata cari uang susah ya hahaha (iya, aku baru tau). Asli sekarang baru nyadar ternyata benar kata ibu dulu  kalau waktu adalah uang. Yang jelas sih, hampir tiga minggu ini resmi sudah nggak leluasa lagi ongkang-ongkang nontonin serial yg ngabisin waktu, baca novel berjam-jam, atau sekedar browsing dan nontonin yutub nggak penting semaleman apalagi nulis di blog ini (pengen nangis).

Rasanya sekarang jadi berasa punya utang kalo pagi belom ngepost artikel buat hari itu. Eh ternyata sejauh ini alhamdulillah bisa juga setelah dijalanin, mau nggak mau harus ngatur waktu dan latian kerja cepet juga di sela sela PKPA di Puskesmas dan Apotek. Kalau mau ngintip kerjaan aku bisa dilihat di sini, hehehe.

Ngomong-ngomong, karena keseringan nyari foto dapur bagus buat bahan nulis artikel, jadi kepikiran pengen bikin wishlist dapur buat rumah aku suatu saat nanti (kapan punya rumahnya dipikir ntaran aja yang penting wishlist nya dulu, ahahaha).

Kunci style buat desain dapur favoritku yang jelas adalah: simple, sleek, modern, small, bright, dan decor nya lucu-lucu tapi fungsional. Kalo dibilang modern country style boleh gak ya (bikin-bikin sendiri). Aku yang jelas gak terlalu suka yang konsepnya terlalu minimalis dan kontemporer apalagi yang terlalu banyak stainless steel, somehow terasa seperti restoran (atau malah ruang operasi di rumah sakit?).

Oke ini dia tiga kitchen wishlist versi aku:

1. Cottage Kitchen

sumber: thekitchn.com
Ini adalah desain dapur sebuah cottage di daerah Maine (dimana pula itu?). Hmm. Sepertinya kalau bangun dapur semacam ini di perkotaan nggak mungkin ya, karena pasti bakalan panas banget haha. Tapi aku suka sekali perpaduan unsur kayu dan warna merahnya, dengan langit-langit dari kaca transparan. Kan seru kalau masak malem-malem sambil liat bintang, hihihi.

2. IKEA Design
sumber: IKEA
Who doesn't love IKEA? Naksir berat sama desain-desain home appliance nya IKEA  -yang kabarnya tahun ini bakal buka di Jakarta-. Begitu pula dengan dapur ini. Suka dengan ide pot-pot tanaman di dekat jendela itu. Kebayang kalau punya yang kaya gini mau diisi ama pot-pot tanaman bumbu seperti mint, oregano, parsley, kemangi,  dll.

3. White Kitchen
sumber: homedit.com
Aku suka segala hal dari desain dapur ini. Ya layoutnya, ya appliances-nya, ya palet warnanya. Cocok buat rumah yang ga terlalu besar jadi lebih hemat ruang. Yang di bagian depan bentuknya mirip tiang itu sebenernya bagian dari pintu geser kaca berbingkai kayu dicat putih. Tapi kalau dihilangkan atau diganti sekat pendek rasanya gak masalah.

Entah kenapa suka banget sama dapur-dapur mungil yang warnanya didominasi putih. Mau dikasih countertop kayu, granit, atau marmer selalu aja keliatan bagus. Simpel dan bersih juga dilihatnya. Cuma kalau yang all white gitu gak terlalu suka malahan.

Yaudah, segitu aja wishlist aku. Semoga segera diberi rezeki buat bikin dapur kaya gitu deh ya, atau ada yang sukarela mau bikinin aku? :D

*setelah dibaca lagi banyak juga nyebut kata 'suka' -__-

Tuesday, April 8, 2014

Why Should We Vote?

I was having a chitchat with a guy, which is also my boyfriend, about Golput (Indonesian term for non-voters) phenomenon in election. He also write a note in his Facebook page about this. And yeah, actually I rewrite it from my point of view.

According to Kompas daily, 29.1 percent of the voting-age population or 49.7 million people did not vote in the 2009 Legislative Election. This makes them the “winner” of that election, surpassing the Democratic Party that had the highest votes at 21.7 million. In over 10 years, the number of voters has continued to slide, from 92.7 percent in 1999, to 84 percent in 2004, to 70 percent in 2009.

So this was a strong political statement to be golput in the three decades of  President Soeharto regime, when election was just a perfunctory affair to legitimate his supremacy.

But, is it still relevant in this democratized era, when we can freely choose our representative in government?
In my personal opinion, this non-voters in after reformation era were a tantamount to being lazy, misguided, and unpatriotic at worst. To me, they couldn’t complain about the government’s ineffectiveness or corruption in parliament, simply because they didn’t have stake.

Ironically, a lot of these non-voters are educated and informed group of people. A few possible reasons may explain their choice: disappointment over parliament’s performance, rampant corruption cases involving legislators, the sentiment that they have no stake in the legislature, and the fact that they have no idea who to vote for.

I’m pretty sure that you who read this are an educated and well-informed people. You want a trustworthy and capable person to sit in legislature. So here are some reasons why you should vote:

1. If you think parliament has nothing to do with ordinary people like you and me so there’s no need to vote next Wednesday, think again. The taxes you pay (or your parents do), go to their bank accounts, and that’s not a small amount. A legislator can take about Rp 50 million per months as his salary, and also all of that luxury things like overseas travel, house, staffs, etc. So, you are their paymaster. Make sure you pay people who will work hard once they occupy those cushy seats.

2. Maybe you’re wary that once elected they will be as corrupt as their predecessors. Just so you know, the parliament had been in cahoot with the current government to introduce changes to Indonesia’s penal code that might undermine the power of the Anti-Corruption Commission (KPK). If passed, this legal initiative may make it harder for KPK to investigate and prosecute corruption cases. Choose a candidate who is committed to the fight against corruption, not putting a brake on it.

3. Parliament does other things besides making laws. It decides on state budget along with the government, monitors the executive branch, and helps vet people who will occupy strategic leadership positions such as the Military Commander, the National Police Chief and the Supreme Court judges. These are important decisions that should not be made by incompetent and greedy people.

4. Still, you just don’t care much about the legislative election, and only want to vote in the presidential election. Not so fast. The Indonesian law requires that a political party must win 25 percent of the votes or 20 seats in parliament in order to be able to nominate a presidential candidate, or they will have to form a coalition with other parties. If you really want your candidate to run in the presidential election, then you have no choice but to vote for his/her party.

5. All of those seems reasonable, but you really don’ know whom to vote for? First, check the General Elections Committee (KPU) website, which provides the information of candidates in your electorate, and then go to any one of these sources Bersih2014, jariungu, checkyourcandidates and wikikandidat to find out more, or read some trusted publications like Tempo magazine, which recently profiled some candidates they deem capable and with integrity.

Well, if you have time to read this, then you can spare a few more minutes to use the vast resource that is the Internet to find your legislators of choice :p
Then you can, at least, filter who candidates are right or not from their clean records.

Oh. For you who still care but there is no way out to vote in your hometown, check this out:

Thursday, March 20, 2014

Happy Birthday, Ibu

Hai Ibu.
Aku datang membawakanmu bunga. White roses which as white as your heart.
Hari ini 20 Maret kedua ibu berulangtahun di surga. It's supposed to be your 51. Semoga Allah selalu menjaga ibu di pelukan-Nya. Maaf sudah lama tidak mengunjungimu, I've been busy these days. Tapi aku nggak pernah lupa untuk membawamu di setiap doaku kok, Bu :)

Ibu aku mau cerita. Aku sekarang sedang magang di Semarang Bu, orang-orang bilang aku kurusan, padahal aku makan banyak lho di sini. Sayang sekali ya Ibu tidak bisa mengunjungiku lagi bersama Bapak seperti waktu aku KKN dulu.

Oiya, De Ninis dan Icha alhamdulillah kabarnya sehat Bu. Ninis sedang sibuk-sibuknya menggambar di Jogja. Masa ya Bu, beberapa jam yang lalu Ninis ngabarin kalau uangnya tinggal 7 ribu perak dan besok mau puasa katanya. Ngenes. Icha juga sama sibuknya, insyaAllah sibuk yang positif kok. Bahkan sempat beberapa waktu lalu sakit tipus dan beratnya turun drastis, tapi sekarang sudah menggendut lagi kok Bu, hihi.

Bude Endang dan Mbah Putri juga baik kabarnya, Mba Nia dan Mba Dyah sudah lahiran, menggemaskan sekali cucu-cucu ibu itu. Sayang Al dan Fathian belum sempat ketemu Uti Mul-nya.

Yang kurang baik adalah kabar Eyang Kakung, Bu. Sekarang sedang dirawat di Solo karena sakit yang dideritanya, beberapa waktu yang lalu baru dilakukan colonectomy ke eyang (sumpah ngasal terminologinya -_-). Sementara Eyang Uti mood nya semakin membaik justru selama eyangkakung sakit ini, mungkin karena diajak jalan-jalan terus kali ya.

Bapak? alhamdulillah sehat tapi maaf Bu sekarang Bapak jadi kurusan, aku masih belum bisa membuat Bapak makan selahap dulu :(
  
I know everything is different since you've passed away. I used to wonder why it must happen to us this way. But since a years ago I've been trying to move on with my life like what you would say if you could give me advice. I promise you to come again with another good news instead of tears, which is right now I try to hold as strong as I can.

source: Pinterest
  I miss you so much.

Wednesday, March 19, 2014

A Memory

It was near of middle 2010. I was going home that weekend. I came home at about 7 pm and I found my bedroom was neat and smell good to sleep in (as always my mom keep it clean and tidy eventhough I am not at home). Then my eyes caught a package of something which was like a brand new bag. Thought that was my mom's, but when I opened it suddenly I saw a bag which I want last time I went out with my mother. I remember when I begged for that bag, my mother said that she wouldn't buy it for me because I hadn't need a new bag yet (as usual). So I didn't expect too much before.

That was one of a sweet small things my mom had done for me. My treasure memories.

Do you know Mom? That bag now is kind of shabby because I use it almost in every moment. But I will keep it accompany me till death do us part, hehe
Oh I wish heaven had a phone so I could hear your voice again.


Monday, March 17, 2014

Twisted



Komunikasi yang terlalu timpang dan pincang dengan salah satu pihak yang berlebihan mendominasi. Tidak ada celah untuk mendengar pihak lainnya.

Ketika ada satu kesempatan pihak A berbicara, sehalus dan sewajar apapun selalu dinilai negatif oleh pihak B dari sisi yang bahkan tak pernah terlintas sedikitpun di pikiran pihak A. Pola pembicaraan yang menyudutkan dan teramat lihai membuat pihak A kalah dan terjatuh oleh pukulan rasa bersalah. Melelahkan.

Mungkin benar pihak A yang kurang mengintrospeksi ke dalam, bahwa mungkin ia tak kunjung dewasa dalam menilai persoalan. Satu-satunya yang menghibur pihak A adalah kenyataan bahwa pihak B sebentar lagi akan menapaki hidup yang lebih membahagiakan daripada saat ini.


Berlayar



Melayarkan perahu di laut memang tak mudah.
Perlu belajar yang tidak hanya sekedar teori.
Mendayung agar seirama, menghadapi ombak agar perahu tidak terguling, belajar bagaimana bertahan ketika badai.
Tapi satu yang terpenting, jauh sebelum itu semua dipelajari.
Tujuan kemana perahu akan dibawa berlayar.
Terlepas dari takdir akan menenggelamkan atau membiarkan perahu sampai di tujuannya.

Selamat tanggal 17 :)