Wednesday, May 17, 2023

Benarkah Hidup Ini Mencari Kebahagiaan?

 Pernah dengar kalimat-kalimat seperti ini:

“Kalau aku menikah dengan dia, pasti aku bahagia.”

“Aku nggak bahagia kerja di sini karena bosnya galak!”

“Aku mau ganti jurusan kuliah, di sini aku nggak bahagia!”

Menurut KBBI, definisi bahagia adalah: “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)

Padahal Bahagia adalah suatu “emosi/perasaan” yang bisa “berubah-ubah”, suatu kondisi yang “tidak menetap”.

Mungkin bisa lebih dipahami dari contoh ini:

Ketika kita sedang di pinggir air terjun kemudian merasakan indahnya ciptaan Allah, mensyukuri mata dan telinga yang kita miliki sehingga bisa menikmati pengalaman ini. Pada saat itu, kita merasa bahagia. Tiba-tiba ada bunyi petasan meleduk kencang “Duaarrrr!”, kita kaget dan merasa marah. Suara petasan selesai, ada pengunjung memutar lagu dangdut yang liriknya lucu, kita merasa geli. Semenit kemudian, mayat seekor kucing lewat di pandangan kita melalui aliran air, kita merasa sedih.

Begitulah setiap kondisi yang kita alami dalam hidup ini. Situasi air terjun itu adalah pernikahan, pekerjaan, sekolah, dll.

“Bahagia” seperti halnya emosi lainnya yang bisa datang dan pergi. Rasa bahagia adalah sebuah keputusan yang kita ciptakan sendiri tergantung fokus dan tindakan kita.

Ketika petasan datang, bisa kita selesaikan dengan banyak cara:

·         Pasang earphone, nikmati musik

·         Beli area air terjun itu dengan radius 1 km lalu pagari

·         Kirim orang untuk ajak si pemain petasan beli es mambo

Boleh tidak memilih menyerah dan mencari air terjun lain yang lebih indah dan sepi?

Tentu Boleh.

Tapi pertimbangkan dulu, apakah itu keputusan yang:

·         Merupakan hasil pemikiran matang atau hanya emosi sesaat.

·         Paling efektif dan efisien secara konsekuensi dunia, meliputi effort, cost, time, dll

·         Jika air terjun itu adalah pernikahan, pikirkan konsekuensi akhiratnya. Siapa saja yang tersakiti dan diabaikan hak-haknya? Kerusakan dan kemaksiatan apa saja yang telah dan akan dilakukan setelah air terjun itu ditinggalkan.

Kalau kemudian berharap bahwa di air terjun yang baru nanti tidak akan ada gangguan dan tantangan apapun itu adalah harapan yang ngadi-ngadi ya, bestii :D

Kalaupun tak ada petasan, mungkin ada badai. Kalaupun tak ada mayat kucing, mungkin ada kotoran manusia.

"Namanya juga dunia, kalau mau sepenuhnya bahagia ya nunggu nanti di surga. Bagaimana mau mendapat surga, kalau baru mendapat tantangan kecil saja sudah putus asa, memilih cara yang Allah tidak ridho."

Bu Okina bilang, kalau rasa bahagia bisa kita ciptakan sendiri dalam hitungan detik. Caranya:

1.       Dengan menghadirkan memori kejadian-kejadian yang kita syukuri dalam hidup ini. Contoh: kelahiran anak, lulus ujian, diterima di universitas idaman, berjumpa dengan ayah ibu setelah lama berpisah, pengalaman liburan yang indah, pengalaman menolong orang yang membutuhkan, berhasil mempresentasikan ide brilian, memandang wajah bayi kita saat disusui, dll.

2.       Lalu perkuat rasa syukur yang hadir dalam diri dan sebarkan ke seluruh tubuh.

Kata Allah dalam QS.Al Mukminun:78: “Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati (perasaan dan pikiran), tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

Pendengaran dan penglihatan bukan saja yang terdengar saat ini, tapi juga yang tersimpan dalam memori kita. Itulah mengapa banyak penelitian membuktikan bahwa orang yang membuat jurnal kebersyukuran lebih sehat secara mental - Sansone and Sansone (2010). Gratitude and well being: the benefits of appreciation, Psychiatri (Edgemont), 7 (11), 18. Emmons, R.A., Froh, J., & Rose, R (2019). Gratitude

Mudah bukan menghadirkan kebahagiaan?

Bahkan dalam Islam, tidak ada satupun perintah mencari kebahagiaan di dunia. Yang diperintahkan kepada manusia adalah mencari jalan yang benar, bersyukur, bersabar, menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

“Bahagia di level dunia adalah sebuah keputusan untuk menjaga :

1.       Pikiran yang membuat pilihan yang benar

2.       Hati yang bersyukur

3.       Jiwa yang tenang (calm/tuma’ninah)

4.       Fisik yang sabar berikhtiar”


Ps: Tulisan ini disadur dari instagram post Bu Okina Fitriani, psikolog kesayangan dan panutanku.

No comments:

Post a Comment