Pernah dengar kalimat-kalimat seperti ini:
“Kalau aku menikah dengan dia, pasti aku bahagia.”
“Aku nggak bahagia kerja di sini karena bosnya galak!”
“Aku mau ganti jurusan kuliah, di sini aku nggak bahagia!”
Menurut KBBI, definisi bahagia
adalah: “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas
dari segala yang menyusahkan)”
Padahal Bahagia adalah suatu “emosi/perasaan” yang bisa “berubah-ubah”, suatu kondisi yang “tidak menetap”.
Mungkin bisa lebih dipahami dari
contoh ini:
Ketika kita sedang di pinggir air
terjun kemudian merasakan indahnya ciptaan Allah, mensyukuri mata dan telinga
yang kita miliki sehingga bisa menikmati pengalaman ini. Pada saat itu, kita
merasa bahagia. Tiba-tiba ada bunyi petasan meleduk kencang “Duaarrrr!”, kita
kaget dan merasa marah. Suara petasan selesai, ada pengunjung memutar lagu
dangdut yang liriknya lucu, kita merasa geli. Semenit kemudian, mayat seekor
kucing lewat di pandangan kita melalui aliran air, kita merasa sedih.
Begitulah setiap kondisi yang
kita alami dalam hidup ini. Situasi air terjun itu adalah pernikahan,
pekerjaan, sekolah, dll.
“Bahagia” seperti halnya emosi
lainnya yang bisa datang dan pergi. Rasa bahagia adalah sebuah keputusan yang kita ciptakan sendiri
tergantung fokus dan tindakan kita.
Ketika petasan datang, bisa kita
selesaikan dengan banyak cara:
·
Pasang earphone, nikmati musik
·
Beli area air terjun itu dengan radius 1 km lalu
pagari
·
Kirim orang untuk ajak si pemain petasan beli es
mambo
Boleh tidak memilih menyerah dan
mencari air terjun lain yang lebih indah dan sepi?
Tentu Boleh.
Tapi pertimbangkan dulu, apakah
itu keputusan yang:
·
Merupakan hasil pemikiran matang atau hanya emosi sesaat.
·
Paling efektif dan efisien secara konsekuensi dunia, meliputi effort, cost, time, dll
·
Jika air terjun itu adalah pernikahan, pikirkan konsekuensi akhiratnya. Siapa saja yang
tersakiti dan diabaikan hak-haknya? Kerusakan dan kemaksiatan apa saja yang
telah dan akan dilakukan setelah air terjun itu ditinggalkan.
Kalau kemudian
berharap bahwa di air terjun yang baru nanti tidak akan ada gangguan dan tantangan apapun itu adalah harapan yang
ngadi-ngadi ya, bestii :D
Kalaupun tak ada
petasan, mungkin ada badai. Kalaupun tak ada mayat kucing, mungkin ada kotoran
manusia.
"Namanya juga dunia, kalau mau sepenuhnya bahagia ya nunggu nanti di surga. Bagaimana mau mendapat surga, kalau baru mendapat tantangan kecil saja sudah putus asa, memilih cara yang Allah tidak ridho."
Bu Okina bilang, kalau rasa
bahagia bisa kita ciptakan sendiri dalam hitungan detik. Caranya:
1.
Dengan menghadirkan memori kejadian-kejadian
yang kita syukuri dalam hidup ini. Contoh: kelahiran anak, lulus ujian,
diterima di universitas idaman, berjumpa dengan ayah ibu setelah lama berpisah,
pengalaman liburan yang indah, pengalaman menolong orang yang membutuhkan,
berhasil mempresentasikan ide brilian, memandang wajah bayi kita saat disusui,
dll.
2.
Lalu perkuat rasa syukur yang hadir dalam diri
dan sebarkan ke seluruh tubuh.
Kata Allah dalam QS.Al
Mukminun:78: “Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan
dan hati (perasaan dan pikiran), tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”
Pendengaran dan penglihatan bukan
saja yang terdengar saat ini, tapi juga yang tersimpan dalam memori kita.
Itulah mengapa banyak penelitian membuktikan bahwa orang yang membuat jurnal
kebersyukuran lebih sehat secara mental - Sansone and Sansone (2010). Gratitude
and well being: the benefits of appreciation, Psychiatri (Edgemont), 7 (11), 18. Emmons, R.A., Froh, J., &
Rose, R (2019). Gratitude
Mudah bukan menghadirkan
kebahagiaan?
Bahkan dalam Islam, tidak ada satupun perintah mencari kebahagiaan di dunia. Yang diperintahkan kepada manusia adalah mencari jalan yang benar, bersyukur, bersabar, menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
“Bahagia di level dunia adalah
sebuah keputusan untuk menjaga :
1. Pikiran yang membuat pilihan yang benar
2. Hati yang bersyukur
3. Jiwa yang tenang (calm/tuma’ninah)
4. Fisik yang sabar berikhtiar”
Ps: Tulisan ini disadur dari instagram post Bu Okina Fitriani, psikolog kesayangan dan panutanku.
No comments:
Post a Comment