Friday, October 10, 2014

JHB-SG-Penang-KL-Melaka (DAY 0)

Bertolak ke JHB
Berbekal tas punggung pinjaman dari adek kos, aku berhasil menggotong semua keperluanku selama 12 hari sebagai makhluk nomaden. Mulai dari baju, mukena, kosmetik, handuk, alat mandi, payung, mie gelas, kentang instan, jas hujan, dan botol aqua (ini super penting), membuat isi tasku menggembung layaknya gunung mau meletus.
Setelah memenuhi perut sekenyang mungkin di RM. Padang Ganti Namo, tak lupa membawa bekal nasi padang 1 bungkus per orang (serius), kami berkumpul di kos saya  dan Nurul untuk menunggu taksi yang akan mengantar kami ke airport. Tepat pukul 13.00 pesawat kami terbang meninggalkan Jogja. Tak sampai dua jam, kami sudah menginjakkan kaki di Bandara Senai, Johor Bahru, kota yang menjadi batas antara Malaysia dan Singapura. Campur aduk perasaanku saat itu, antara cemas dan excited bercampur sampai terasa gatal di kepala (loh). Nasib kami 12 hari ini terlihat buram, entah kemana angin membawa kami, apakah semua yang tertulis di itinerary (selanjutnya akan ditulis itin saja demi menghemat energi) akan berjalan mulus? Masih samar-samar jawabnya.
Melintasi Batas
Hari itu pasporku, Nurul, dan Metha akhirnya tidak lagi polos. Oh jadi seperti ini ya rasanya melintasi batas negara. Garis tegas hitam di legenda peta yang memisahkan batas antara Indonesia dan Malaysia kami lewati dengan menjawab pertanyaan simpel, “hendak bekerja atau belajar?” yang selalu kami jawab singkat, “holiday”. Oke, mungkin mereka mengira kami akan bekerja sebagai TKW.
Persoalan besar hari itu adalah, dimana kami akan menginap? Dulu  sebenarnya kami berencana menginap di sekitar airport malam itu, lalu bertolak ke Singapura pagi hari berikutnya. Tapiii kami berubah pikiran setelah tahu bahwa kami bisa mendapat transport gratis ke Singapura jika berangkat ke sana pada tanggal yang sama dengan penerbangan kami. Ya, penumpang Air Asia bisa menumpang bus Causeway Link yang akan berangkat dari bandara Senai sampai terminal Kranji atau Queenstreet di Singapura  secara cuma cuma. Kesan pertama naik bus CW ini cukup menyenangkan, pak cik kernet yang kukenal saat tanya-tanya tentang bus ini di counter CW bandara Senai juga sangat baik, bahkan ia menunjukkan jalan saat pindah bus CW lain di terminal JB Sentral. Ya, jadi kami sempat beberapa kali ganti bus CW, termasuk saat di Woodlands tanpa perlu bayar sepeserpun asal tiket tidak hilang.

melintas negeri bersama bus Causeway Link
                Megahnya imigrasi Singapura di Woodlands Checkpoint terasa asing bagiku. Lantai keramik putih, ruangan luas terang benderang, pegawai imigrasi di sana sini meneliti paspor dengan seksama lalu memindai sidik jari para pendatang.  Dengan menyeberang dari suatu negara ke negara lain lewat perjalanan darat, kita bisa mengamati bagaimana roda-roda suatu negara berputar, bagaimana pemikiran manusianya. Negara maju atau miskin. Efisien atau molor. Korup atau tertib. Perbatasan adalah jendela untuk mengintip sebuah negara, titik kecil yang memberi ilustrasi gambar besar di baliknya. Di Woodlands, semua orang tampak dikejar makhluk tak kasatmata bernama waktu. Tak ada satupun yang berjalan atau mengobrol santai. Hal yang memberiku gambaran tentang betapa mahalnya waktu di negara  yang sebentar lagi akan terhampar di hadapanku.

Menjawab Persoalan
                Tinggal dimana malam ini? Pertanyaan yang sama masih menghantui kami setibanya kami di Kranji Station. Kenapa turun di stasiun Kranji? karena pikir kami biar bisa naik MRT ke Bugis-nya. Sebenarnya bisa juga turun di terminal Queenstreet. Jalan kaki dari Queenstreet ke Bugis ternyata bisa ditempuh sekitar 10 menitan.
                 Dari Kranji, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Bugis setelah membeli Standard Ticket untuk naik MRT. Awalnya kami sepakat untuk membeli EZ Link Card untuk keperluan transport kami dengan MRT selama di Spore, tapi karena saat itu sudah cukup malam (sekitar pukul 8 p.m waktu setempat), konter EZ Link di stasiun Kranji sudah tutup (atau habis?entahlah).
              MRT di Spore sangat bersih, tidak bau, dan di jendela-jendelanya ada beberapa iklan produk maupun iklan masyarakat yang tertempel dengan rapih. Sebelum masuk ke dalam MRT, orang-orang berdiri teratur di tanda yang tersedia dan mendahulukan penumpang di dalam yang akan keluar. Kerapian dan kepatuhan orang Singapura memang mengagumkan, paling tidak buatku.
                Mengapa kami menuju ke Bugis? Itu karena di daerah Bugis ada satu masjid yang cukup terkenal yaitu masjid Sultan. Rencananya kami akan sholat di masjid Sultan lalu ke McD untuk menumpang tidur. Hanya itu yang terlintas di kepala kami saat itu. Saat di MRT kami sempat mengobrol dengan seorang ibu muda dengan bayi bule yang super imut saat di MRT, ia memberi kami arahan untuk mencapai masjid Sultan dari stasiun Bugis.
                Sampai Bugis, kami membeli dulu kartu EZ Link seharga 12 dollar dengan total isi 8 dollar untuk masing-masing kartu. Terjadilah kebodohan pertama kami dimana EZ Link yang kami beli ternyata berjumlah 5, padahal kami kan cuma butuh 4, hiks. Yap, hari itu kami merugi 12 dollar. Untuk menghibur diri, rencananya sisa kartu tersebut akan dijual di kaskus saat pulang nanti.
Dengan bermodalkan petunjuk dari ibu tadi, kami berjalan keluar stasiun ke arah Rafless Hospital. Untung kami menemukan peta daerah Bugis di stasiun tersebut dan ternyata masjid Sultan tidak begitu jauh dari situ. Kami putuskan untuk mengabaikan rintihan perut yang sejak tadi merindukan bekal nasi rendang lezat dari Indonesia. Toh paling hanya 5 menitan jalan kaki ini.
Perkiraan kami salah besar ternyata saudara-saudara.  Hampir 15 menit berjalan  menyusuri deretan pub dan tempat nongkrong, tenaga kami makin menipis, air minum sudah dibuang saat di bandara Adisucipto tadi, dan parahnya lagi, sepertinya kami salah jalan. Rupanya kami berjalan terlalu jauh dari tempat dimana kami seharusnya membelok kiri. Senang tak terkira saat akhirnya kami menemukan masjid tersebut. Masjidnya sangat bersih dan nyaman. Sayang kami tak bisa lama-lama di situ karena masjid akan segera ditutup. Dari keterangan mas merbot penjaga masjid, ternyata McD di dekat situ tidak buka 24 jam. Menceloslah kami. Tak ada tempat tinggal malam itu. Dan perut kami semakin menjerit.
image
muka-muka kasian di depan Masjid Sultan, Bugis. Spore
***
Kami putuskan untuk melihat-lihat sekeliling masjid. Mana tahu ada tempat yang buka 24 jam. Ada sih sebenarnya, seven-eleven. Tapi tak ada tempat di situ untuk bisa leluasa makan nasi padang, hiks. Sempat tergoda untuk makan di seonggok sofa yang kami temukan di ujung jalan, tapi kami ternyata tidak siap untuk makan di situ dengan puluhan pasang mata menatap aneh.
Akhirnya kami menyerah dengan nasi padang dan memilih makan di salah satu warung yang terlihat paling bersahabat. Namanya ‘Kampong Glam Cafe’. Aku akhirnya mengenali jalanan ini sebagai tempat yang disebut Kampong Glam di majalah yang kubaca di pesawat tadi. Jalan yang penuh dengan deretan tempat makan dan nongkrong paling hip se-Singapura yang hanya buka saat malam.
Kafe yang kami pilih ini tidak terlihat seperti kafe bagiku. Cenderung seperti warung pinggir jalan yang menyediakan kursi-kursi dan meja di trotoar depan warungnya. Kafe ini menjual aneka masakan melayu dengan harga yang masih reasonable untuk ukuran s’pore.
Kami duduk di area yang cukup terang dan terletak di tengah-tengah. Entah dandanan kami yang terlalu aneh atau bagaimana, karyawan-karyawan di situ sangat ramah kepada kami. Mereka kebanyakan orang Melayu dan bahkan ada orang Bali dan orang Indramayu. Mereka semua menanyakan hal yang sama, “kenapa kami di situ malam-malam begini” dan “apakah malam ini ada tempat tinggal”.
image
kekenyangan makan di Kampong Glam Cafe
Kami menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cerita karangan bahwa kami sebenarnya sedang menunggu teman tapi entah kenapa teman tersebut tidak datang juga dan parahnya tidak bisa dihubungi. Ampuni kelicikan kami ya Allah :(
Semua orang begitu peduli kepada kami, bahkan ada pengunjung yang tidak ingin ketahuan oleh kami memberikan dua botol air mineral lewat karyawan kafe yang ramah tadi. Atas petunjuk bapak pemilik kafe tersebut kami mencoba ke hotel-hotel di dekat situ untuk memesan kamar tapi ternyata semua hotel sudah penuh. Jadilah kami tinggal di meja tersebut sampai kafe tutup jam 3 pagi, lalu tetap menunggu di situ sampai masjid Sultan buka. Bukan ide yang menyenangkan tentunya menghabiskan malam dengan terus terjaga sementara pundak dan kaki kami terasa lelah. Ditambah diam-diam sebenarnya kami takut juga tinggal berempat di situ dengan lampu kafe yang dimatikan.  Yang sedikit melegakan adalah para karyawan yang baik tadi banyak yang tidur di lantai dua atas kafe.
Tongsis dan payung tergenggam erat sementara kami berusaha membuat mata tetap terjaga dengan berbagai kesibukan seperti Truth or Dare dan bermain ABCD nama-nama obat (freak haha). Kami sadar bahwa sedari tadi masih ada dua pengunjung kafe yang masih bertahan di mejanya yang terletak agak jauh dari kami. Saat itu kami memikirkan dua opsi kemungkinan, antara mereka orang baik yang tadi memberi kami air mineral, atau justru orang tak baik yang berniat mencelakakan kami ketika orang-orang sudah terlelap.
Jantungku berdegup kencang saat salah satu pengunjung tadi berjalan ke arah kami. Tak bisa kulihat jelas wajahnya, yang jelas ia terlihat seperti mengecek keberadaan kami. Lalu ia memanggil temannya, dan…..benar-benar menuju meja kami. Aaakk. Aku sudah ancang-ancang untuk teriak dan mengayunkan payung ketika orang itu duduk di kursi belakang kami dan menyapa ramah. “kamu orang indonesia ya?” sapanya dengan logat melayu yang kental. Singkat kata, mereka sama sekali tidak berniat jahat, hanya menemani kami ngobrol sampai masjid buka dan bahkan membelikan dua botol minuman Yeoh’s dan sekaleng Mister Potato. Oh ya, namanya Mohammad Shafi’i, polisi, umur 22 tahun, gundul ganteng, bulu matanya lentik parah  (penting). Dan yang satu lagi namanya Sheik Mohammed, kerja di airport, umur 23 tahun, melayu tapi mirip orang india. Seperti yang sudah kuduga, mereka pasti ada niat untuk memodusi salah satu dari kami, dan benar saja mereka minta FB (anis yang jadi tumbal haha), memberikan nomor telpon dan siap dihubungi kalau kami perlu bantuan. Malam yang melelahkan *sigh*
(Bersambung)

No comments:

Post a Comment