Bertolak ke JHB
Berbekal tas punggung pinjaman dari adek kos, aku berhasil menggotong
semua keperluanku selama 12 hari sebagai makhluk nomaden. Mulai dari
baju, mukena, kosmetik, handuk, alat mandi, payung, mie gelas, kentang
instan, jas hujan, dan botol aqua (ini super penting), membuat isi tasku
menggembung layaknya gunung mau meletus.
Setelah memenuhi perut sekenyang mungkin di RM. Padang Ganti Namo,
tak lupa membawa bekal nasi padang 1 bungkus per orang (serius), kami
berkumpul di kos saya dan Nurul untuk menunggu taksi yang akan
mengantar kami ke airport. Tepat pukul 13.00 pesawat kami terbang
meninggalkan Jogja. Tak sampai dua jam, kami sudah menginjakkan kaki di
Bandara Senai, Johor Bahru, kota yang menjadi batas antara Malaysia dan
Singapura. Campur aduk perasaanku saat itu, antara cemas dan excited
bercampur sampai terasa gatal di kepala (loh). Nasib kami 12 hari ini
terlihat buram, entah kemana angin membawa kami, apakah semua yang
tertulis di itinerary (selanjutnya akan ditulis itin saja demi menghemat energi) akan berjalan mulus? Masih samar-samar jawabnya.
Melintasi Batas
Hari itu pasporku, Nurul, dan Metha akhirnya tidak lagi polos. Oh
jadi seperti ini ya rasanya melintasi batas negara. Garis tegas hitam di
legenda peta yang memisahkan batas antara Indonesia dan Malaysia kami
lewati dengan menjawab pertanyaan simpel, “hendak bekerja atau belajar?”
yang selalu kami jawab singkat, “holiday”. Oke, mungkin mereka mengira
kami akan bekerja sebagai TKW.
Persoalan besar hari itu adalah, dimana kami akan menginap? Dulu
sebenarnya kami berencana menginap di sekitar airport malam itu, lalu
bertolak ke Singapura pagi hari berikutnya. Tapiii kami berubah pikiran
setelah tahu bahwa kami bisa mendapat transport gratis ke Singapura jika
berangkat ke sana pada tanggal yang sama dengan penerbangan kami. Ya,
penumpang Air Asia bisa menumpang bus Causeway Link yang akan berangkat
dari bandara Senai sampai terminal Kranji atau Queenstreet di Singapura
secara cuma cuma. Kesan pertama naik bus CW ini cukup menyenangkan, pak
cik kernet yang kukenal saat tanya-tanya tentang bus ini di counter CW
bandara Senai juga sangat baik, bahkan ia menunjukkan jalan saat pindah
bus CW lain di terminal JB Sentral. Ya, jadi kami sempat beberapa kali
ganti bus CW, termasuk saat di Woodlands tanpa perlu bayar sepeserpun
asal tiket tidak hilang.
![]() |
| melintas negeri bersama bus Causeway Link |
Megahnya imigrasi Singapura di Woodlands Checkpoint
terasa asing bagiku. Lantai keramik putih, ruangan luas terang
benderang, pegawai imigrasi di sana sini meneliti paspor dengan seksama
lalu memindai sidik jari para pendatang. Dengan menyeberang dari suatu
negara ke negara lain lewat perjalanan darat, kita bisa mengamati
bagaimana roda-roda suatu negara berputar, bagaimana pemikiran
manusianya. Negara maju atau miskin. Efisien atau molor. Korup atau
tertib. Perbatasan adalah jendela untuk mengintip sebuah negara, titik
kecil yang memberi ilustrasi gambar besar di baliknya. Di Woodlands,
semua orang tampak dikejar makhluk tak kasatmata bernama waktu. Tak ada
satupun yang berjalan atau mengobrol santai. Hal yang memberiku gambaran
tentang betapa mahalnya waktu di negara yang sebentar lagi akan
terhampar di hadapanku.
Menjawab Persoalan
Tinggal dimana malam
ini? Pertanyaan yang sama masih
menghantui kami setibanya kami di Kranji Station. Kenapa turun di
stasiun Kranji? karena pikir kami biar bisa naik MRT ke Bugis-nya.
Sebenarnya bisa juga turun di terminal Queenstreet. Jalan kaki dari
Queenstreet ke Bugis ternyata bisa ditempuh sekitar 10 menitan.
Dari Kranji,
kami melanjutkan perjalanan ke stasiun MRT Bugis setelah membeli
Standard Ticket untuk naik MRT. Awalnya kami sepakat untuk membeli EZ
Link Card untuk keperluan transport kami dengan MRT selama di Spore,
tapi karena saat itu sudah cukup malam (sekitar pukul 8 p.m waktu
setempat), konter EZ Link di stasiun Kranji sudah tutup (atau
habis?entahlah).
MRT di Spore
sangat bersih, tidak bau, dan di jendela-jendelanya ada beberapa iklan
produk maupun iklan masyarakat yang tertempel dengan rapih. Sebelum
masuk ke dalam MRT, orang-orang berdiri teratur di tanda yang tersedia
dan mendahulukan penumpang di dalam yang akan keluar. Kerapian dan
kepatuhan orang Singapura memang mengagumkan, paling tidak buatku.
Mengapa kami menuju ke Bugis? Itu karena di daerah
Bugis ada satu masjid yang cukup terkenal yaitu masjid Sultan.
Rencananya kami akan sholat di masjid Sultan lalu ke McD untuk menumpang
tidur. Hanya itu yang terlintas di kepala kami saat itu. Saat di MRT
kami sempat mengobrol dengan seorang ibu muda dengan bayi bule yang
super imut saat di MRT, ia memberi kami arahan untuk mencapai masjid
Sultan dari stasiun Bugis.
Sampai Bugis, kami membeli dulu kartu EZ Link seharga
12 dollar dengan total isi 8 dollar untuk masing-masing kartu.
Terjadilah kebodohan pertama kami dimana EZ Link yang kami beli ternyata
berjumlah 5, padahal kami kan cuma butuh 4, hiks. Yap, hari itu kami
merugi 12 dollar. Untuk menghibur diri, rencananya sisa kartu tersebut
akan dijual di kaskus saat pulang nanti.
Dengan bermodalkan petunjuk dari ibu tadi, kami berjalan keluar
stasiun ke arah Rafless Hospital. Untung kami menemukan peta daerah
Bugis di stasiun tersebut dan ternyata masjid Sultan tidak begitu jauh
dari situ. Kami putuskan untuk mengabaikan rintihan perut yang sejak
tadi merindukan bekal nasi rendang lezat dari Indonesia. Toh paling
hanya 5 menitan jalan kaki ini.
Perkiraan kami salah besar ternyata saudara-saudara. Hampir 15 menit
berjalan menyusuri deretan pub dan tempat nongkrong, tenaga kami makin
menipis, air minum sudah dibuang saat di bandara Adisucipto tadi, dan
parahnya lagi, sepertinya kami salah jalan. Rupanya kami berjalan
terlalu jauh dari tempat dimana kami seharusnya membelok kiri. Senang
tak terkira saat akhirnya kami menemukan masjid tersebut. Masjidnya
sangat bersih dan nyaman. Sayang kami tak bisa lama-lama di situ karena
masjid akan segera ditutup. Dari keterangan mas merbot penjaga masjid,
ternyata McD di dekat situ tidak buka 24 jam. Menceloslah kami. Tak ada
tempat tinggal malam itu. Dan perut kami semakin menjerit.
| muka-muka kasian di depan Masjid Sultan, Bugis. Spore |
***
Kami putuskan untuk melihat-lihat sekeliling masjid. Mana tahu ada tempat yang buka 24 jam. Ada sih sebenarnya,
seven-eleven. Tapi tak ada tempat di situ untuk bisa leluasa makan nasi
padang, hiks. Sempat tergoda untuk makan di seonggok sofa yang kami
temukan di ujung jalan, tapi kami ternyata tidak siap untuk makan di
situ dengan puluhan pasang mata menatap aneh.
Akhirnya kami menyerah dengan nasi padang dan memilih makan di salah
satu warung yang terlihat paling bersahabat. Namanya ‘Kampong Glam
Cafe’. Aku akhirnya mengenali jalanan ini sebagai tempat yang disebut
Kampong Glam di majalah yang kubaca di pesawat tadi. Jalan yang penuh
dengan deretan tempat makan dan nongkrong paling hip se-Singapura yang hanya buka saat malam.
Kafe yang kami pilih ini tidak terlihat seperti kafe bagiku.
Cenderung seperti warung pinggir jalan yang menyediakan kursi-kursi dan
meja di trotoar depan warungnya. Kafe ini menjual aneka masakan melayu
dengan harga yang masih reasonable untuk ukuran s’pore.
Kami duduk di area yang cukup terang dan terletak di tengah-tengah.
Entah dandanan kami yang terlalu aneh atau bagaimana, karyawan-karyawan
di situ sangat ramah kepada kami. Mereka kebanyakan orang Melayu dan
bahkan ada orang Bali dan orang Indramayu. Mereka semua menanyakan hal
yang sama, “kenapa kami di situ malam-malam begini” dan “apakah malam
ini ada tempat tinggal”.
| kekenyangan makan di Kampong Glam Cafe |
Kami menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cerita karangan bahwa
kami sebenarnya sedang menunggu teman tapi entah kenapa teman tersebut
tidak datang juga dan parahnya tidak bisa dihubungi. Ampuni kelicikan kami ya
Allah :(
Semua orang begitu peduli kepada kami, bahkan ada pengunjung yang
tidak ingin ketahuan oleh kami memberikan dua botol air mineral lewat
karyawan kafe yang ramah tadi. Atas petunjuk bapak pemilik kafe tersebut
kami mencoba ke hotel-hotel di dekat situ untuk memesan kamar tapi
ternyata semua hotel sudah penuh. Jadilah kami tinggal di meja tersebut
sampai kafe tutup jam 3 pagi, lalu tetap menunggu di situ sampai masjid
Sultan buka. Bukan ide yang menyenangkan tentunya menghabiskan malam
dengan terus terjaga sementara pundak dan kaki kami terasa lelah.
Ditambah diam-diam sebenarnya kami takut juga tinggal berempat di situ
dengan lampu kafe yang dimatikan. Yang sedikit melegakan adalah para
karyawan yang baik tadi banyak yang tidur di lantai dua atas kafe.
Tongsis dan payung tergenggam erat sementara kami berusaha membuat
mata tetap terjaga dengan berbagai kesibukan seperti Truth or Dare dan
bermain ABCD nama-nama obat (freak haha). Kami sadar bahwa sedari tadi
masih ada dua pengunjung kafe yang masih bertahan di mejanya yang
terletak agak jauh dari kami. Saat itu kami memikirkan dua opsi
kemungkinan, antara mereka orang baik yang tadi memberi kami air
mineral, atau justru orang tak baik yang berniat mencelakakan kami
ketika orang-orang sudah terlelap.
Jantungku berdegup kencang saat salah satu pengunjung tadi berjalan
ke arah kami. Tak bisa kulihat jelas wajahnya, yang jelas ia terlihat
seperti mengecek keberadaan kami. Lalu ia memanggil temannya,
dan…..benar-benar menuju meja kami. Aaakk. Aku sudah ancang-ancang untuk
teriak dan mengayunkan payung ketika orang itu duduk di kursi belakang
kami dan menyapa ramah. “kamu orang indonesia ya?” sapanya dengan logat
melayu yang kental. Singkat kata, mereka sama sekali tidak berniat
jahat, hanya menemani kami ngobrol sampai masjid buka dan bahkan
membelikan dua botol minuman Yeoh’s dan sekaleng Mister Potato. Oh ya,
namanya Mohammad Shafi’i, polisi, umur 22 tahun, gundul ganteng, bulu
matanya lentik parah (penting). Dan yang satu lagi namanya Sheik
Mohammed, kerja di airport, umur 23 tahun, melayu tapi mirip orang
india. Seperti yang sudah kuduga, mereka pasti ada niat untuk memodusi
salah satu dari kami, dan benar saja mereka minta FB (anis yang jadi
tumbal haha), memberikan nomor telpon dan siap dihubungi kalau kami
perlu bantuan. Malam yang melelahkan *sigh*
(Bersambung)

No comments:
Post a Comment