Monday, June 9, 2014

Pharmaceutical Care di Kehidupan Nyata

Mumpung besok adalah jadwal ujian Pelayanan Farmasi untuk ke-3 kalinya (iya kamu nggak salah baca, ini ujian KETIGA), mau nggak mau jadi memutar kembali ingatan saya bahwa ternyata bekerja sebagai farmasis di bidang pelayanan tidak semudah yang dipikirkan. Singkatnya, apa yang akan saya tulis kali ini cuma berdasar apa yang saya alami pas praktek kerja selama 1,5 bulan kemarin di Puskesmas dan Apotek. 

Di Puskesmas, meski resepnya SANGAT banyak (tembus 200an per 4 jam), tapi bisa dibilang lebih mudah dijalani daripada bekerja di apotek ramai macam kosud. Dengan obat yang jauh lebih sedikit macamnya, pasien yang hampir setipe, seringnya tidak terlalu banyak menuntut selain hanya butuh didengarkan, dan terhitung sangat mudah untuk diberikan masukan.

Kalau kerja di apotek gimana rasanya? Jelas capek banget, sama sekali nggak menyangka kalau apotek kecil tempat saya PKPA itu ramainya luar biasa. Anda harus bisa tahu lokasi-lokasi obat, kegunaan obat, bahkan harga obat harus perlahan dihafal karena komputer input hanya dua. cuma satu kata yang menggambarkan hari pertama saya bekerja: LUARBIASA. For your information, saat pertama berada ke ruang racik yang berisi ribuan (?) item obat itu kepala rasanya mau pecah, teman saya bahkan bilang kalau saya benar-benar pucat di hari pertama itu. Alhamdulillah sih nggak sampai pingsan ya -_-

Bekerja di pelayanan tidak semudah yang saya bayangkan. Tapi, ada hal yang mungkin gak akan saya alami tanpa saya pkpa di apotek dan puskesmas, hal-hal yang cuma ada di kuliah atau kejadian yang hanya ada di TV, ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata.

1. Saat di puskesmas ada seorang kakek berumur 80 an tahun yang berobat sendiri, bahkan kaki kakek itu sudah nggak kuat lagi jalan ke meja penyerahan obat. Saya hampiri dan ajak ngobrol, ternyata kakek itu hidup sebatang kara, nggak punya istri apalagi anak.  T.T

2.  Di puskesmas juga, pas lagi nyebar kuesioner, salah satu ibu-ibu responden bercerita ke saya hampir 1 jam (padahal puskesmas buka cuma 4 jam) tentang pemecatan massal yang menimpa dirinya dan suaminya dari pabrik pembuat pesawat satu satunya di Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun berlalu, ibu tersebut dan kawan-kawannya masih saja gigih memperjuangkan haknya yang belum dipenuhi perusahaan. Entah kenapa waktu 1 jam itu nggak berasa.

3. Saat terpaksa harus menginterupsi curhatan panjang seorang bapak tentang rasa sayangnya kepada sang putera yang sakit jiwa sejak SD hingga sekarang sudah 30 tahun lebih usianya (salut, tapi mau gak mau dipotong ceritanya krn ga enak sama antrian panjang di belakangnya huhu)

4. Saat ada mas mas gondrong seumuran saya berobat ke puskesmas yang mencoba mengkritisi penggunaan kata 'saya' sebagai kata ganti (semoga cepat sembuh ya mas haha)

5. Saat ada seorang ibu muda datang ke apotek meminta obat untuk tukang kebunnya yang mengeluh kalau alat kelaminnya bernanah (salah nggak kalau jadi mikir aneh aneh?.__.)

6. Saat ada seorang pria sepuh bergelar profesor datang ke apotek dan memberi kuliah, menanyakan obat dan mulai membicarakan ikatan kimia dan reseptor.

7. Saat muncul dosen muda super ganteng seperti di sinetron dan meminta rekomendasi saya obat untuk memperlancar ASI (padahal ga ngerti apa apa haha)

8. Saat harus menghadapi seorang dosen yang cukup disegani oleh karyawan kosud datang membeli obat ke apotek hampir 3x tiap minggu, selalu membuat saya merasa bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan - pertanyaan ngetes beliau.

9. Saat datang seorang kakek ke apotek, meminta barang bernama 'sedot ingus' yang ternyata adalah vicks inhaler -___-

10. Saat orang-orang pergi ke apotek layaknya berbelanja di toko permen, bahkan tren yang muncul sekarang kebanyakan orang membeli obat bukan karena kebutuhan tetapi untuk menghabiskan anggaran belanja.

11. Saat seorang ibu mengeluhkan penyakitnya yang beragam dan saya hanya bisa mendengarkan lalu berujar tulus 'Semoga lekas sembuh ya, Bu' maaf gak bisa konseling, ilmunya kurang :(

12. Saat datang seseorang membawa sebuah tablet putih tanpa bungkus apapa, hanya berkata itu untuk obat sendi, dan saya disuruh mencari itu obat apa diantara ribuan obat berbungkus dan berlabel di apotek zzz

Nyata kan? itu yang saya sebut LUAR BIASA, bahwa seorang apoteker tidak hanya harus menghafal kegunaan suatu obat, tapi juga harus mengetahui caranya bertindak saat muncul pasien dengan keinginan ataupun cerita yang LUAR BIASA.

No comments:

Post a Comment