Kali ini saya mau bercerita soal perjalanan saya dan teman-teman kemarin ke nikahan salah satu sahabat kami, Mely, di Malang. Rencana perjalanan ini memang kami susun superkilat karena waktu acara yang terjepit di tengah-tengah musim ujian. Jujur saja yang bikin saya selalu excited ke Malang tidak lain karena kota tersebut adalah kota asal pria-tanpa-hubungan-darah-kesayangan saya, sayang dia kali ini tidak bisa ikut.
Kami merencanakan ke Malang naik kereta ekonomi AC yang di tiket tertulis berangkat Jumat 10 Januari jam 22.15. Siangnya ketika saya sedang bersama pacar, Uut mengirim wa bahwa nanti kumpul jam 21.30 di kosan saya. Tapi atas masukan dari pacar saya, jam kumpul dimajukan jadi jam 21.00 karena menurutnya wanita itu repot dalam hal bepergian jadi dia khawatir kami akan terlambat.
Benar saja dugaannya. Jam 21.00 baru Lely yang datang ke kosan. Saya? Packing sudah selesai sebenarnya hanya saja banyak yang kelupaan, jadi bolak-balik deh ke atas. Sekitar 21.30 sudah bertambah Glory, Novi, dan Elsa. Daaannn...ternyata belum ada seorang pun di antara kami yang sudah memesan taksi untuk ke stasiun Tugu -____-
Singkatnya kami memesan 2 taksi sedan sembari menunggu 2 personel lain, yaitu Uut dan Pritha datang. Tepat pukul 22.00 taksi datang, tapi parahnya hanya 1 taksi yang datang. Akhirnya demi mengejar kereta kami ber-pepes ria di dalam taksi sedan, dengan total muatan 8 orang (+supir).
Hari sabtu 11 Januari, kami sampai di Malang disambut hujan, kabut, dan Bintang (pacar Pritha). Kami memutuskan mencari masjid untuk solat Subuh. Dan disinilah masalah lain muncul. Pertama kali dalam hidup kami, ketika ke masjid diwawancara oleh ibu tukang bersih-bersih masjid, "mau ngapain kesini", "jam segini kok baru solat", dan saya yang saat itu sedang tidak solat dan sedang antri ke kamar mandi dihardik olehnya "ayo cepet cepet mbak, jangan lelet, waktunya udah habis, mau tak bersihin" (oke fix nggak jadi pipis, time is out ya Bu -__-)
Kejadian buruk tadi dilupakan setelah kami makan nasi daging yang cukup enak sebelum kami ke rumah pacar (sedikit cerita, perjalanan kami disupport oleh pacar saya yang baik hati menelpon mamanya sebelum kami berangkat semalam, sehingga kami tidak perlu luntang lantung di pom bensin). Sedihnya lagi di jalan sekitar kampus UB kami melihat kecelakaan cukup parah yang dialami seorang mbak-mbak tepat di depan mobil kami. Bahagianya sesampai di rumah tujuan, sambutan dari mamanya pacar saya sangat menyenangkan meskipun saya pasti terlihat grogi setengah mati :B
Oke kita skip dan langsung ke bagian klimaks dari cerita ini. Perjalanan ke tempat nikahan Melly ternyata superjauh dan macet. Di tengah kemacetan di jalan yang nggak seberapa luas, tiba-tiba ada mobil nyalip mobil kami dari kiri sampai melewati jalur sampai akhirnya mobil kita berdua sama-sama stuck. Eh, pengemudi mobil itu yang ternyata adalah sesosok ibu-ibu sosialita berkrudung hijaber gaul kacamataan ungu dengan alis merahnya keluar dari jendela mobilnya marah-marah kayak orang kesurupan sambil mengacung-acungkan jempolnya ke bawah menyuruh kami untuk mundur. Pelis deh ibu, gimana kami mau mundur di saat kanan rame mobil dan belakang dipepet mobil. Si ibu sama sekali tidak mau mengalah untuk memutar stirnya ke kiri sedikit dan terus memaki kami. Bintang akhirnya mundur pelan-pelan dan maju untuk melanjutkan perjalanan.
Di tengah jalan kami baru sadar kalau ternyata si ibu kesurupan mengikuti kami sambil membunyikan klakson terus menerus sepanjang jalan hingga kami menepi. Di tepi jalan yang super macet, ibu itu memaki kami sekencang-kencangnya seakan-akan kami tunarungu (malu woy). Si ibu memaksa kami sekarang juga memperbaiki mobilnya yang ternyata tergores. Kami yang sedang terburu-buru meminta ibu kesurupan itu untuk menunggu sampai setelah acara nikahan dengan jaminan KTP dan uang, tapi dia tetap nggak mau dan malah makin menjadi-jadi bahkan sempat terjadi perebutan kunci mobil yang dramatis di antara ibu itu dan Pritha. Hingga akhirnya saya dan Uut jadi sandera di mobil ibu kesurupan dan disinilah penderitaan kami berdua dimulai. Sepanjang perjalanan ke bengkel nggak sedetik pun si ibu diam kecuali memaki dan menyumpah, mulai dari "temen kalian tuh bilangin nggak usah bawa mobil kalo nggak becus nyetir.", "urusan saya nih banyak bukan cuma buat ngurusin hal-hal kecil kaya gini", "nyupir aja lelet ky gitu", "jalan pake dibenerin segala", "eh denger gak kalian??!!", "?@!#&#$*^" . Pengen banget tanya, belajar nyupir dari kapan sih bu, kasar banget nyetirnya. Beneran lho kepentok pentok mulu pas disupirin ibu kesurupan.
Sampai disini saya sempat kepikiran, kenapa si ibu nggak coba casting jadi pemeran ibu ibu antagonis di sinetron, mantep banget teriakannya. Saya sih nggak memasukkan ke hati hinaan cacian orang gila kaya gitu, tapi kayaknya uut dari tadi nahan nangis. Bingung juga mau ngapain, saya sendiri bukan orang yang pintar membalas cacian jadi saya diam, toh ngomong apapun pasti nggak akan didenger juga sama si ibu. Kasian sama anaknya yang duduk di jok depan, masih kecil dan polos banget mukanya. Semoga kamu tumbuh jadi anak yang sabar dan nggak preman kaya ibu kamu ya, Dek :')
Bener, sampai bengkel kita balik ke mobil semula dan tangisnya Uut pecah dong. Semua jadi ketularan sedih. Semua berakhir dengan membayar biaya bengkel dimana si ibu ngotot ke tukang bengkel, hari itu juga mobilnya harus selesai diperbaiki. Spekulasi kami sih, ibu2 tadi udah biasa kena masalah di jalan, takut dicerai suaminya kalo ketauan mobilnya kenapa napa lagi, takut nggak punya uang lagi buat ngecat alis sama kukunya.
Sesampai di nikahan udah keliatan terharu banget kita pada bengkak itu mata, bertemu Melly yang hari itu super cantik dengan gaun emas yang juga cantik banget :3
Tibalah di kesedihan terakhir haha. Travel yang seharusnya menjemput kami dan Fica dkk telat datang, bahkan sampai Melly dan keluarganya pulang. Alhasil kami yang menggelandang di emperan masjid depan tempat nikahan pun cuma bisa sabar dan menghitung detik demi detik kedatangan travel, yang untungnya cukup nyaman.
Hari minggu 12 januari dini hari, Alhamdulillah kami sampai di kos masing-masing dengan selamat setelah melalui 24 jam perjalanan yang luarbiasa.
Yah..dijadikan pelajaran saja, agar kita bersikap sesuai dengan umurnya dan nantinya kita bisa menjadi orangtua yang sabar dan nggak gampang kesurupan :p
Buat Melly, semoga menjadi keluarga yang sakinah dan berbahagia sampai maut memisahkan. Kalau ada masalah berat tolong diingat Me perjuangan teman-teman kamu untuk datang ke hari bahagia kamu.
Terimakasih sebesar-besarnya saya ucapkan untuk pacar saya dan keluarga serta Bintang yang telah mensupport perjalanan kami kemarin. Semoga di perjalanan-perjalanan mendatang tidak diwarnai kericuhan seperti ini lagi haha.
Terimakasih untuk yang sudah sudi membaca :)
Kami merencanakan ke Malang naik kereta ekonomi AC yang di tiket tertulis berangkat Jumat 10 Januari jam 22.15. Siangnya ketika saya sedang bersama pacar, Uut mengirim wa bahwa nanti kumpul jam 21.30 di kosan saya. Tapi atas masukan dari pacar saya, jam kumpul dimajukan jadi jam 21.00 karena menurutnya wanita itu repot dalam hal bepergian jadi dia khawatir kami akan terlambat.
Benar saja dugaannya. Jam 21.00 baru Lely yang datang ke kosan. Saya? Packing sudah selesai sebenarnya hanya saja banyak yang kelupaan, jadi bolak-balik deh ke atas. Sekitar 21.30 sudah bertambah Glory, Novi, dan Elsa. Daaannn...ternyata belum ada seorang pun di antara kami yang sudah memesan taksi untuk ke stasiun Tugu -____-
Singkatnya kami memesan 2 taksi sedan sembari menunggu 2 personel lain, yaitu Uut dan Pritha datang. Tepat pukul 22.00 taksi datang, tapi parahnya hanya 1 taksi yang datang. Akhirnya demi mengejar kereta kami ber-pepes ria di dalam taksi sedan, dengan total muatan 8 orang (+supir).
Hari sabtu 11 Januari, kami sampai di Malang disambut hujan, kabut, dan Bintang (pacar Pritha). Kami memutuskan mencari masjid untuk solat Subuh. Dan disinilah masalah lain muncul. Pertama kali dalam hidup kami, ketika ke masjid diwawancara oleh ibu tukang bersih-bersih masjid, "mau ngapain kesini", "jam segini kok baru solat", dan saya yang saat itu sedang tidak solat dan sedang antri ke kamar mandi dihardik olehnya "ayo cepet cepet mbak, jangan lelet, waktunya udah habis, mau tak bersihin" (oke fix nggak jadi pipis, time is out ya Bu -__-)
Kejadian buruk tadi dilupakan setelah kami makan nasi daging yang cukup enak sebelum kami ke rumah pacar (sedikit cerita, perjalanan kami disupport oleh pacar saya yang baik hati menelpon mamanya sebelum kami berangkat semalam, sehingga kami tidak perlu luntang lantung di pom bensin). Sedihnya lagi di jalan sekitar kampus UB kami melihat kecelakaan cukup parah yang dialami seorang mbak-mbak tepat di depan mobil kami. Bahagianya sesampai di rumah tujuan, sambutan dari mamanya pacar saya sangat menyenangkan meskipun saya pasti terlihat grogi setengah mati :B
Oke kita skip dan langsung ke bagian klimaks dari cerita ini. Perjalanan ke tempat nikahan Melly ternyata superjauh dan macet. Di tengah kemacetan di jalan yang nggak seberapa luas, tiba-tiba ada mobil nyalip mobil kami dari kiri sampai melewati jalur sampai akhirnya mobil kita berdua sama-sama stuck. Eh, pengemudi mobil itu yang ternyata adalah sesosok ibu-ibu sosialita berkrudung hijaber gaul kacamataan ungu dengan alis merahnya keluar dari jendela mobilnya marah-marah kayak orang kesurupan sambil mengacung-acungkan jempolnya ke bawah menyuruh kami untuk mundur. Pelis deh ibu, gimana kami mau mundur di saat kanan rame mobil dan belakang dipepet mobil. Si ibu sama sekali tidak mau mengalah untuk memutar stirnya ke kiri sedikit dan terus memaki kami. Bintang akhirnya mundur pelan-pelan dan maju untuk melanjutkan perjalanan.
Di tengah jalan kami baru sadar kalau ternyata si ibu kesurupan mengikuti kami sambil membunyikan klakson terus menerus sepanjang jalan hingga kami menepi. Di tepi jalan yang super macet, ibu itu memaki kami sekencang-kencangnya seakan-akan kami tunarungu (malu woy). Si ibu memaksa kami sekarang juga memperbaiki mobilnya yang ternyata tergores. Kami yang sedang terburu-buru meminta ibu kesurupan itu untuk menunggu sampai setelah acara nikahan dengan jaminan KTP dan uang, tapi dia tetap nggak mau dan malah makin menjadi-jadi bahkan sempat terjadi perebutan kunci mobil yang dramatis di antara ibu itu dan Pritha. Hingga akhirnya saya dan Uut jadi sandera di mobil ibu kesurupan dan disinilah penderitaan kami berdua dimulai. Sepanjang perjalanan ke bengkel nggak sedetik pun si ibu diam kecuali memaki dan menyumpah, mulai dari "temen kalian tuh bilangin nggak usah bawa mobil kalo nggak becus nyetir.", "urusan saya nih banyak bukan cuma buat ngurusin hal-hal kecil kaya gini", "nyupir aja lelet ky gitu", "jalan pake dibenerin segala", "eh denger gak kalian??!!", "?@!#&#$*^" . Pengen banget tanya, belajar nyupir dari kapan sih bu, kasar banget nyetirnya. Beneran lho kepentok pentok mulu pas disupirin ibu kesurupan.
Sampai disini saya sempat kepikiran, kenapa si ibu nggak coba casting jadi pemeran ibu ibu antagonis di sinetron, mantep banget teriakannya. Saya sih nggak memasukkan ke hati hinaan cacian orang gila kaya gitu, tapi kayaknya uut dari tadi nahan nangis. Bingung juga mau ngapain, saya sendiri bukan orang yang pintar membalas cacian jadi saya diam, toh ngomong apapun pasti nggak akan didenger juga sama si ibu. Kasian sama anaknya yang duduk di jok depan, masih kecil dan polos banget mukanya. Semoga kamu tumbuh jadi anak yang sabar dan nggak preman kaya ibu kamu ya, Dek :')
Bener, sampai bengkel kita balik ke mobil semula dan tangisnya Uut pecah dong. Semua jadi ketularan sedih. Semua berakhir dengan membayar biaya bengkel dimana si ibu ngotot ke tukang bengkel, hari itu juga mobilnya harus selesai diperbaiki. Spekulasi kami sih, ibu2 tadi udah biasa kena masalah di jalan, takut dicerai suaminya kalo ketauan mobilnya kenapa napa lagi, takut nggak punya uang lagi buat ngecat alis sama kukunya.
Sesampai di nikahan udah keliatan terharu banget kita pada bengkak itu mata, bertemu Melly yang hari itu super cantik dengan gaun emas yang juga cantik banget :3
Tibalah di kesedihan terakhir haha. Travel yang seharusnya menjemput kami dan Fica dkk telat datang, bahkan sampai Melly dan keluarganya pulang. Alhasil kami yang menggelandang di emperan masjid depan tempat nikahan pun cuma bisa sabar dan menghitung detik demi detik kedatangan travel, yang untungnya cukup nyaman.
Hari minggu 12 januari dini hari, Alhamdulillah kami sampai di kos masing-masing dengan selamat setelah melalui 24 jam perjalanan yang luarbiasa.
Yah..dijadikan pelajaran saja, agar kita bersikap sesuai dengan umurnya dan nantinya kita bisa menjadi orangtua yang sabar dan nggak gampang kesurupan :p
Buat Melly, semoga menjadi keluarga yang sakinah dan berbahagia sampai maut memisahkan. Kalau ada masalah berat tolong diingat Me perjuangan teman-teman kamu untuk datang ke hari bahagia kamu.
Terimakasih sebesar-besarnya saya ucapkan untuk pacar saya dan keluarga serta Bintang yang telah mensupport perjalanan kami kemarin. Semoga di perjalanan-perjalanan mendatang tidak diwarnai kericuhan seperti ini lagi haha.
Terimakasih untuk yang sudah sudi membaca :)




No comments:
Post a Comment